Senin, 03 Mei 2010

MAKALAH SEJARAH KOMPUTER

DAFTAR ISI

Halaman Judul i
Daftar Isi ii
Pembahasan 1 - 17
Daftar Referensi 18


























ii


PEMBAHASAN


1. PENGERTIAN KOMPUTER
Komputer adalah alat yang dipakai untuk mengolah data menurut prosedur yang telah dirumuskan. Kata computer semula dipergunakan untuk menggambarkan orang yang perkerjaannya melakukan perhitungan aritmatika, dengan atau tanpa alat bantu, tetapi arti kata ini kemudian dipindahkan kepada mesin itu sendiri. Asal mulanya, pengolahan informasi hampir eksklusif berhubungan dengan masalah aritmatika, tetapi komputer modern dipakai untuk banyak tugas yang tidak berhubungan dengan matematika.
Secara luas, Komputer dapat didefinisikan sebagai suatu peralatan elektronik yang terdiri dari beberapa komponen, yang dapat bekerja sama antara komponen satu dengan yang lain untuk menghasilkan suatu informasi berdasarkan program dan data yang ada. Adapun komponen komputer adalah meliputi : Layar Monitor, CPU, Keyboard, Mouse dan Printer (sbg pelengkap). Tanpa printer komputer tetap dapat melakukan tugasnya sebagai pengolah data, namun sebatas terlihat dilayar monitor belum dalam bentuk print out (kertas).
Dalam definisi seperti itu terdapat alat seperti slide rule, jenis kalkulator mekanik mulai dari abakus dan seterusnya, sampai semua komputer elektronik yang kontemporer. Istilah lebih baik yang cocok untuk arti luas seperti "komputer" adalah "yang memproses informasi" atau "sistem pengolah informasi."








2. SEJARAH KOMPUTER
a. Penggolongan Alat Pengolah Data
Bagaimanapun juga alat pengolah data dari sejak jaman purba sampai saat ini bisa kita golongkan ke dalam 4 golongan besar:
1) Peralatan manual: yaitu peralatan pengolahan data yang sangat sederhana, dan faktor terpenting dalam pemakaian alat adalah menggunakan tenaga tangan manusia. Contoh : Abacus
Abacus, yang muncul sekitar 5000 tahun yang lalu di Asia kecil dan masih digunakan di beberapa tempat hingga saat ini, dapat dianggap sebagai awal mula mesin komputasi. Alat ini memungkinkan penggunanya untuk melakukan perhitungan menggunakan biji­bijian geser yang diatur pada sebuh rak. Para pedagang di masa itu menggunakan abacus untuk menghitung transaksi perdagangan. Seiring dengan munculnya pensil dan kertas, terutama di Eropa, abacus kehilangan popularitasnya.

2) Peralatan Mekanik: yaitu peralatan yang sudah berbentuk mekanik yang digerakkan dengan tangan secara manual
a) Pascaline
Pada tahun 1642, Blaise Pascal (1623­1662), yang pada waktu itu berumur 18 tahun, menemukan apa yang ia sebut sebagai kalkulator roda numerik (numerical wheel calculator) untuk membantu ayahnya melakukan perhitungan pajak.
Kotak persegi kuningan ini yang dinamakan Pascaline, menggunakan delapan roda putar bergerigi untuk menjumlahkan bilangan hingga delapan digit. Alat ini merupakan alat penghitung bilangan berbasis sepuluh. Kelemahan alat ini adalah hanya terbatas untuk melakukan penjumlahan.
Tahun 1694, seorang matematikawan dan filsuf Jerman, Gottfred Wilhem von Leibniz (1646­1716) memperbaiki Pascaline dengan membuat mesin yang dapat mengalikan. Sama seperti pendahulunya, alat mekanik ini bekerja dengan menggunakan roda­roda gerigi. Dengan mempelajari catatan dan gambar­gambar yang dibuat oleh Pascal, Leibniz dapat menyempurnakan alatnya.
b) Kalkulator Mekanik(Arithometer)
Charles Xavier Thomas de Colmar menemukan mesin yang dapat melakukan empat fungsi aritmatik dasar. Kalkulator mekanik Colmar, arithometer, mempresentasikan pendekatan yang lebih praktis dalam kalkulasi karena alat tersebut dapat melakukan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.

3) Peralatan Mekanik Elektronik: Peralatan mekanik yang digerakkan oleh secara otomatis oleh motor elektronik
a) Mesin Uap Differensiil
Awal mula komputer yang sebenarnya dibentuk oleh seoarng profesor matematika Inggris, Charles Babbage (1791­1871). Tahun 1812, Babbage memperhatikan kesesuaian alam antara mesin mekanik dan matematika. Mesin mekanik sangat baik dalam mengerjakan tugas yang sama berulangkali tanpa kesalahan; sedang matematika membutuhkan repetisi sederhana dari suatu langkah­langkah tertenu. Masalah tersebut kemudain berkembang hingga menempatkan mesin mekanik sebagai alat untuk menjawab kebutuhan mekanik.
Usaha Babbage yang pertama untuk menjawab masalah ini muncul pada tahun 1822 ketika ia mengusulkan suatu mesin untuk melakukan perhitungan persamaan differensil. Mesin tersebut dinamakan Mesin Differensial. Dengan menggunakan tenaga uap, mesin tersebut dapat menyimpan program dan dapat melakukan kalkulasi serta mencetak hasilnya secara otomatis
b) Analytical Engine
Setelah bekerja dengan Mesin Differensial selama sepuluh tahun, Babbage tiba­tiba terinspirasi untuk memulai membuat komputer general­ purpose yang pertama, yang disebut Analytical Engine.
Asisten Babbage, Augusta Ada King (1815­1842) memiliki peran penting dalam pembuatan mesin ini. Ia membantu merevisi rencana, mencari pendanaan dari pemerintah Inggris, dan mengkomunikasikan spesifikasi Anlytical Engine kepada publik. Selain itu, pemahaman Augusta yang baik tentang mesin ini memungkinkannya membuat instruksi untuk dimasukkan ke dalam mesin dan juga membuatnya menjadi programmer wanita yang pertama.
Pada tahun 1980, Departemen Pertahanan Amerika Serikat menamakan sebuah bahasa pemrograman dengan nama ADA sebagai penghormatan kepadanya. Mesin uap Babbage, walaupun tidak pernah selesai dikerjakan, tampak sangat primitif apabila dibandingkan dengan standar masa kini. Bagaimanapun juga, alat tersebut menggambarkan elemen dasar dari sebuah komputer modern dan juga mengungkapkan sebuah konsep penting. Terdiri dari sekitar 50.000 komponen, desain dasar dari Analytical Engine menggunakan kartu­kartu perforasi (berlubang­lubang) yang berisi instruksi operasi bagi mesin tersebut.
Pada 1889, Herman Hollerith (1860­1929) juga menerapkan prinsip kartu perforasi untuk melakukan penghitungan. Tugas pertamanya adalah menemukan cara yang lebih cepat untuk melakukan perhitungan bagi Biro Sensus Amerika Serikat. Sensus sebelumnya yang dilakukan di tahun 1880 membutuhkan waktu tujuh tahun untuk menyelesaikan perhitungan. Dengan berkembangnya populasi, Biro tersebut memperkirakan bahwa dibutuhkan waktu sepuluh tahun untuk menyelesaikan perhitungan sensus.

4) Peralatan Elektronik: Peralatan yang bekerjanya secara elektronik penuh
Pada tahun 1903, John V. Atanasoff dan Clifford Berry mencoba membuat komputer elektrik yang menerapkan aljabar Boolean pada sirkuit elektrik. Pendekatan ini didasarkan pada hasil kerja George Boole (1815­1864) berupa sistem biner aljabar, yang menyatakan bahwa setiap persamaan matematik dapat dinyatakan sebagai benar atau salah. Dengan mengaplikasikan kondisi benar­salah ke dalam sirkuit listrik dalam bentuk terhubung­terputus, Atanasoff dan Berry membuat komputer elektrik pertama di tahun 1940. Namun proyek mereka terhenti karena kehilangan sumber pendanaan.

b. Penggolongan Komputer
Penggolongan komputer berdasarkan 5 hal:
1) Data yang diolah
a) Komputer Analog
digunakan untuk mengolah data kualitatif, bekerja secara kontinu dan parallel, biasanya tidak memerlukan bahasa perantara. Contohnya komputer yang digunakan dirumah sakit untuk mengukur suhu, kecepatan suara, voltase listrik.


Gambar 1 Komputer Analog

b) Komputer Digital
Digunakan untuk mengolah data kuantitatif (huruf, angka, kombinasi huruf & angka, karakter­karakter khusus) biasanya memerlukan bahasa perantara. Contohnya komputer PC dll.


Gambar 2 Komputer Digital

c) Komputer Hybrid
Merupakan kombinasi antara komputer analog dengan digital. Contohnya: Facsimile

Gambar 3 Komputer Hybrid

2) Penggunaan
Berdasarkan penguunaannya komputer dibedakan menjadi 2 yaitu :
a) Komputer Untuk Tujuan Khusus (Special Purpose Computer)
Komputer yang dirancang untuk menyelesaikan masalah yang khusus yg biasanya hanya berupa satu masalah saja. Komputer ini dapat berupa komputer digital maupun komputer analog, dan mumnya komputer analog adalah special purpose computer. Komputer ini banyak dikembangkan untuk pengontrolan yang otomatis pada proses-proses industri seperti pabrik kimia, penyulingan minyak, pabrik baja serta untuk tujuan militer
b) Komputer Untuk Tujuan Umum (General Purpose Computer)
Komputer yang dirancang untuk menyelesaikan bermacam-macam masalah dengan program-program yang bermacam-macam pula. Dibandingkan dengan special-purpose computer, kecepatannya lebih rendah. Dipakai untuk berbagai keperluan, untuk aplikasi bisnis, teknik, pendidikan, pengolahan kata, permainan, dsb. Komputer ini dapat berupa komputer digital maupun komputer analog, dan umumnya komputer digital adalah general purpose computer.

3) Kapasitas dan ukurannya
Berdasarkan kapasitas dan ukurannya komputer dibedakan menjadi 6 yaitu :
a) Tower (menara) adalah yang biasanya diletakkan disamping atau dibawah meja, karena ukurannya yang relatif besar, sehingga memenuhi meja. Komputer ini biasanya banyak memiliki ruang didalamnya dan banyak memiliki expansion slot (tempat untuk memasang card tambahan), sehingga bisa ditambahkan dengan berbagai perangkat tambahan.

b) Desktop (meja) adalah komputer yang ukuran sedikit lebih kecil dari dari Tower, tetapi biasanya diletakkan diatas meja. Komputer ini paling banyak dipakai karena harganya yang lebih murah bila dibandingkan dengan bentuk yang lain.
c) Portable (mudah dibawa­bawa) adalah komputer yang ukuran sedikit lebih kecil dari Desktop, karena bagian­bagiannya dapat dirangkai menjadi satu kotak saja, sehingga mudah dibawa kemana­mana. Komputer ini ditujukan bagi pemakai yang sering bertugas ilapangan, misalnya insinyur yang bertugas menyelesaikan suatu rumah atau peneliti yang mengumpulkan data dilokasi yang jauh dari kantornya. Komputer ini kurang populer karena relatif besar dan berat.
d) Notebook (buku catatan) adalah komputer yang ukurannya sebesar buku.. Notebook mempunyai ukuran yang sama dengan kerta kuarto, yaitu 8 ½ x 11 inci, tebalnya berkisar 1 hingga 1 ½ inci dan beratnya antara 4 sampai 6 kg
e) Subnotebook adalah komputer yang ukuran ada diantara komputer notebook dan palmtop. Ukuran komputer ini sedikit lebih kecil dari notebook karena ada sebagian perangkat yang tidak dipasang, biasanya disk drive.
f) Palmtop adalah komputer yang dapat digenggam, karena ukurannya yang sangat kecil. Komputer ini sering disebut handheld computer. Komputer ini tidak memerlukan aliran listrik, melainkan baterai kecil biasa (ukuran AA). Kelemahan dari komputer ini adalah layarnya yang terlalu kecil dan keyboardnya sedikit lebih kecil dari ukuran standar, sehingga menyulitkan pemakai.



4) Perkembangan Hardware
Berdasarkan perkembangan hardware, komputer terbagi dalam 5 generasi yaitu:
a) Komputer Generasi Pertama (1946­1959)
Dengan terjadinya Perang Dunia II, negara­negara yang terlibat dalam perang tersebut berusaha mengembangkan untuk mengeksploit potensi strategis yang dimiliki komputer.
Hal ini meningkatkan pendanaan pengembangan komputer serta mempercepat kemajuan teknik komputer.
(1) Colassus
(2) Mark I
(3) ENIAC
(4) EDVAC
(5) UNIVAC I
Ciri komputer generasi pertama adalah:
 Penggunaan tube vakum (yang membuat komputer pada masa tersebut berukuran sangat besar)
 Adanya silinder magnetik untuk penyimpanan data.
 Instruksi operasi dibuat secara spesifik untuk suatu tugas tertentu.
 Setiap komputer memiliki program kode­biner yang berbeda yang disebut “bahasa mesin” (machine language). Hal ini menyebabkan komputer sulit untuk diprogram dan membatasi kecepatannya.

b) Komputer Generasi Kedua (1959­1964)
Stretch dan LARC

Mesin pertama yang memanfaatkan teknologi baru ini adalah superkomputer. IBM membuat superkomputer bernama Stretch, dan Sprery­ Rand membuat komputer bernama LARC. Komputer­komputer ini,yang dikembangkan untuk laboratorium energi atom, dapat menangani sejumlah besar data, sebuah kemampuan yang sangat dibutuhkan oleh peneliti atom. Mesin tersebut sangat mahal dan cenderung terlalu kompleks untuk kebutuhan komputasi bisnis, sehingga membatasi kepopulerannya.
Hanya ada dua LARC yang pernah dipasang dan digunakan: satu di Lawrence Radiation Labs di Livermore, California, dan yang lainnya di US Navy Research and Development Center di Washington D.C. Komputer generasi kedua menggantikan bahasa mesin dengan bahasa assembly. Bahasa assembly adalah bahasa yang menggunakan singkatan­singakatan untuk menggantikan kode biner.
Pada awal 1960­an, mulai bermunculan komputer generasi kedua yang sukses di bidang bisnis, di universitas, dan di pemerintahan. Komputer generasi kedua ini merupakan komputer yang sepenuhnya menggunakan transistor. Mereka juga memiliki komponen­komponen yang dapat diasosiasikan dengan komputer pada saat ini: printer, penyimpanan dalam disket, memory, sistem operasi, dan program.
Salah satu contoh penting komputer pada masa ini adalah IBM 1401 yang diterima secara luas di kalangan industri. Pada tahun 1965, hampir seluruh bisnis­bisnis besar menggunakan komputer generasi kedua untuk memproses informasi keuangan.
Program yang tersimpan di dalam komputer dan bahasa pemrograman yang ada di dalamnya memberikan fleksibilitas kepada komputer. Fleksibilitas ini meningkatkan kinerja dengan harga yang pantas bagi penggunaan bisnis. Dengan konsep ini, komputer dapat mencetak faktur pembelian konsumen dan kemudian menjalankan desain produk atau menghitung daftar gaji.
Beberapa bahasa pemrograman mulai bermunculan pada saat itu. Bahasa pemrograman Common Business­Oriented Language (COBOL) dan Formula Translator (FORTRAN) mulai umum digunakan. Bahasa pemrograman ini menggantikan kode mesin yang rumit dengan kata­kata, kalimat, dan formula matematika yang lebih mudah dipahami oleh manusia. Hal ini memudahkan seseorang untuk memprogram dan mengatur komputer. Berbagai macam karir baru bermunculan (programmer, analyst, dan ahli sistem komputer). Industri piranti lunak juga mulai bermunculan dan berkembang pada masa komputer generasi kedua ini.
Ciri-ciri komputer pada generasi kedua:

 Penggunaan transistor sehingga ukurannya lebih kecil
 Adanya pengembangan memori inti­magnetik membantu pengembangan komputer generasi kedua yang lebih kecil, lebih cepat, lebih dapat diandalkan, dan lebih hemat energi dibanding para pendahulunya
 Penggantian dari bahasa mesin menjadi bahasa Asembly
 Muncul bahasa pemrograman COBOL dan FORTRAN

c) Komputer Generasi Ketiga (1964­1970)
Walaupun transistor dalam banyak hal mengungguli tube vakum, namun transistor menghasilkan panas yang cukup besar, yang dapat berpotensi merusak bagian­bagian internal komputer. Batu kuarsa (quartz rock) menghilangkan masalah ini. Jack Kilby, seorang insinyur di Texas Instrument, mengembangkan sirkuit terintegrasi (IC : integrated circuit) di tahun 1958. IC mengkombinasikan tiga komponen elektronik dalam sebuah piringan silikon kecil yang terbuat dari pasir kuarsa. Pada ilmuwan kemudian berhasil memasukkan lebih banyak komponen­komponen ke dalam suatu chiptunggal yang disebut semikonduktor. Hasilnya, komputer menjadi semakin kecil karena komponen­komponen dapat dipadatkan dalam chip. Kemajuan komputer generasi ketiga lainnya adalah penggunaan system operasi (operating system) yang memungkinkan mesin untuk menjalankan berbagai program yang berbeda secara serentak dengan sebuah program utama yang memonitor dan mengkoordinasi memori komputer.
Ciri-ciri komputer pada generasi ketiga:

 Penggunaan IC(Intregrated Circuit)
 Ukuran komputer menjadi lebih kecil
 Ditemukannya Sistem Operasi

d) Komputer Generasi Keempat (1979­sekarang)
Setelah IC, tujuan pengembangan menjadi lebih jelas: mengecilkan ukuran sirkuit dan komponen­komponen elektrik. Large Scale Integration (LSI) dapat memuat ratusan komponen dalam sebuah chip. Pada tahun 1980­ an, Very Large Scale Integration (VLSI) memuat ribuan komponen dalam sebuah chip tunggal. Ultra­Large Scale Integration (ULSI) meningkatkan jumlah tersebut menjadi jutaan. Kemampuan untuk memasang sedemikian banyak komponen dalam suatu keping yang berukurang setengah keping uang logam mendorong turunnya harga dan ukuran komputer. Hal tersebut juga meningkatkan daya kerja, efisiensi dan keterandalan komputer.
Chip Intel 4004 yang dibuat pada tahun 1971 membawa kemajuan pada IC dengan meletakkan seluruh komponen dari sebuah komputer (central processing unit, memori, dan kendali input/output) dalam sebuah chip yang sangat kecil. Sebelumnya, IC dibuat untuk mengerjakan suatu tugas tertentu yang spesifik. Sekarang, sebuah mikroprosesor dapat diproduksi dan kemudian diprogram untuk memenuhi seluruh kebutuhan yang diinginkan. Tidak lama kemudian, setiap perangkat rumah tangga seperti microwave oven, televisi, dan mobil dengan electronic fuel injection dilengkapi dengan mikroprosesor.
Perkembangan yang demikian memungkinkan orang­orang biasa untuk menggunakan komputer biasa. Komputer tidak lagi menjadi dominasi perusahaan­perusahaan besar atau lembaga pemerintah. Pada pertengahantahun 1970­an, perakit komputer menawarkan produk komputer mereka ke masyarakat umum. Komputer­komputer ini, yang disebut minikomputer, dijual dengan paket piranti lunak yang mudah digunakan oleh kalangan awam. Piranti lunak yang paling populer pada saat itu adalah program word processing dan spreadsheet. Pada awal 1980­an, video game seperti Atari 2600 menarik perhatian konsumen pada komputer rumahan yang lebih canggih dan dapat diprogram.
Pada tahun 1981, IBM memperkenalkan penggunaan Personal Computer (PC) untuk penggunaan di rumah, kantor, dan sekolah. Jumlah PC yang digunakan melonjak dari 2 juta unit di tahun 1981 menjadi 5,5 juta unit di tahun 1982. Sepuluh tahun kemudian, 65 juta PC digunakan. Komputer melanjutkan evolusinya menuju ukuran yang lebih kecil, dari komputer yang berada di atas meja (desktop computer) menjadi komputer yang dapat dimasukkan ke dalam tas (laptop), atau bahkan komputer yang dapat digenggam (palmtop).
IBM PC bersaing dengan Apple Macintosh dalam memperebutkan pasar komputer. Apple Macintosh menjadi terkenal karena mempopulerkan system grafis pada komputernya, sementara saingannya masih menggunakan komputer yang berbasis teks. Macintosh juga mempopulerkan penggunaan piranti mouse.
Pada masa sekarang, kita mengenal perjalanan IBM compatible dengan pemakaian CPU: IBM PC/486, Pentium, Pentium II, Pentium III, Pentium IV (Serial dari CPU buatan Intel). Juga kita kenal AMD k6, Athlon, dsb. Ini semua masuk dalam golongan komputer generasi keempat. Seiring dengan menjamurnya penggunaan komputer di tempat kerja, cara­cara baru untuk menggali potensial terus dikembangkan. Seiring dengan bertambah kuatnya suatu komputer kecil, komputer­komputer tersebut dapat dihubungkan secara bersamaan dalam suatu jaringan untuk saling berbagi memori, piranti lunak, informasi, dan juga untuk dapat saling berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Komputer jaringan memungkinkan komputer tunggal untuk membentuk kerjasama elektronik untuk menyelesaikan suatu proses tugas. Dengan menggunakan perkabelan langsung (disebut juga local area network, LAN), atau kabel telepon, jaringan ini dapat berkembang menjadi sangat besar
Ciri-ciri komputer pada generasi keempat:
• Digunakannya LSI, VLSI, ULSI
• Digunakannya mikroprosesor

e) Komputer Generasi Kelima
Mendefinisikan komputer generasi kelima menjadi cukup sulit karena tahap ini masih sangat muda. Contoh imajinatif komputer generasi kelima adalah komputer fiksi HAL9000 dari novel karya Arthur C. Clarke berjudul 2001:Space Odyssey. HAL menampilkan seluruh fungsi yang diinginkan dari sebuah komputer generasi kelima. Dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence), HAL dapat cukup memiliki nalar untuk melakukan percapakan dengan manusia, menggunakan masukan visual, dan belajar dari pengalamannya sendiri.
Walaupun mungkin realisasi HAL9000 masih jauh dari kenyataan, banyak fungsi­fungsi yang dimilikinya sudah terwujud. Beberapa komputer dapat menerima instruksi secara lisan dan mampu meniru nalar manusia. Kemampuan untuk menterjemahkan bahasa asing juga menjadi mungkin. Fasilitas ini tampak sederhana. Namun fasilitas tersebut menjadi jauh lebih rumit dari yang diduga ketika programmer menyadari bahwa pengertian manusia sangat bergantung pada konteks dan pengertian ketimbang sekedar menterjemahkan kata­kata secara langsung.
Banyak kemajuan di bidang desain komputer dan teknologi semkain memungkinkan pembuatan komputer generasi kelima. Dua kemajuan rekayasa yang terutama adalah kemampuan pemrosesan paralel, yang akan menggantikan model Von Neumann. Model Von Neumann akan digantikan dengan sistem yang mampu mengkoordinasikan banyak CPU untuk bekerja secara serempak. Kemajuan lain adalah teknologi superkonduktor yang memungkinkan aliran elektrik tanpa ada hambatan apapun, yang nantinya dapat mempercepat kecepatan informasi.
Jepang adalah negara yang terkenal dalam sosialisasi jargon dan proyek komputer generasi kelima. Lembaga ICOT (Institute for new Computer Technology) juga dibentuk untuk merealisasikannya. Banyak kabar yang menyatakan bahwa proyek ini telah gagal, namun beberapa informasi lain bahwa keberhasilan proyek komputer generasi kelima ini akan membawa perubahan baru paradigma komputerisasi di dunia.


Ciri-ciri komputer pada generasi keempat:
• Adanya kecerdasan buatan
• Mengkoordinasikan CPU secara serempak
• Adanya teknologi super konduktor

5) Sejarah Komputer berdasarkan perkembangan software









Gambar 4: Perkembangan Software dalam berbagai Era

a) Era Pioner
Bentuk perangkat lunak pada awalnya adalah sambungan­sambungan kabel ke antar bagian dalam Komputer. Cara lain dalam mengakses komputer adalah menggunakan punched card yaitu kartu yang di lubangi. Penggunaan komputer saat itu masih dilakukan secara langsung, sebuah program untuk sebuah mesin untuk tujuan tertentu. Pada era ini, perangkat lunak merupakan satu kesatuan dengan perangkat kerasnya. Penggunaan komputer dilakukan secara langsung dan hasil yang selesai di kerjakan komputer berupa print out. Proses yang di lakukan di dalam komputer berupa baris instruksi yang secara berurutan di proses. Contoh komputer pada era ini adalah komputer ENIAC.

b) Era Stabil
Pada era stabil penggunaan komputer sudah banyak di gunakan, tidak hanya oleh kalangan peneliti dan akademi saja, tetapi juga oleh kalangan industri / perusahaan. Perusahaan perangkat lunak bermunculan, dan sebuah perangkat lunak dapat Menjalankan beberapa fungsi, dari ini perangkat lunak mulai bergeser menjadi sebuah produk. Baris­baris perintah perangkat lunak yang di jalankan oleh komputer bukan lagi satu­satu, tapi sudah seperti banyak proses yang di lakukan secara serempak (multi tasking). Sebuah perangkat lunak mampu menyelesaikan banyak pengguna (multi user) secara cepat/langsung (real time). Pada era ini mulai di kenal sistem basis data, yang memisahkan antara program (pemroses) dengan data (yang di proses).
c) Era Mikro
Sejalan dengan semakin luasnya PC dan jaringan komputer di era ini, perangkat lunak juga berkembang untuk memenuhi kebutuhan perorangan. Perangkat lunak dapat di bedakan menjadi perangkat lunak sistem yang bertugas menangani internal dan perangkat lunak aplikasi yang digunakan secara langsung oleh penggunannya untuk keperluan tertentu. Automatisasi yang ada di dalam perangkat lunak mengarah ke suatu jenis kecerdasan buatan.
d) Era Modern
Saat ini perangkat lunak sudah terdapat di mana­mana, tidak hanya pada sebuah superkomputer dengan 25 prosesornya, sebuah komputer genggampun telah di lengkapi dengan perangkat lunak yang dapat di sinkronkan dengan PC. Tidak hanya komputer, bahkan peralatan seperti telepon, TV, hingga ke mesin cuci, AC dan microwave, telah di tanamkan perangkat lunak untuk mengatur operasi peralatan itu. Dan yang hebatnya lagi adalah setiap peralatan itu akan mengarah pada suatu saat kelak akan dapat saling terhubung. Pembuatan sebuah perangkat lunak bukan lagi pekerjaan segelentir orang, tetapi telah menjadi pekerjaan banyak orang, dengan beberapa tahapan proses yang melibatkan berbagai disiplin ilmu dalam perancangannya. Tingkat kecerdasan yang di tunjukkan oleh perangkat lunak pun semakin meningkat, selain permasalahan teknis, perangkat lunak sekarang mulai bisa mengenal suara dan gambar.




DAFTAR REFERENSI


http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_komputer
http://aplikomfeunlam.files.wordpress.com/2007/11/penggolongan-komputer.pdf
http://www.unhas.ac.id/rhiza/arsip/Arsitektur%20Komputer/arsitektur%20komputer/modul_6_-_sejarah_pc.pdf

Jumat, 19 Maret 2010

SISTEM OTOMASI INDUSTRI

Ditinjau dari sisi teknologi, Otomasi Industri merupakan integrasi antara teknologi mekatronika, teknologi komputer dan teknologi informasi. Sedangkan definisi Mekatronika menurut Loughborough University (United Kingdom) adalah: "Mechatronics is a design philosophy that utilizes a synergistic integration of Mechanics, Electronics and Computer Technology (or IT) to produce enhanced products, processes or systems". Secara lebih spesifik, diagram sistem mekatronika diperlihatkan pada gambar 2.1 yang merupakan integrasi sinergi antara teknologi mekanik (mekanik konvensional/elektromekanik), kontrol, elektronik (analog/ digital) dan teknologi informasi. Contoh sistem mekatronika sederhana adalah mesin pengemasan permen, mesin pengemasan obat dan kosmetik dan mesin-mesin CNC.

Adapun terdapat beberapa perincian level otomasi menurut Prof. Dr. H. Kirrmann dari Pusat Riset EPFL/ABB Swiss, dengan penjelasan sebagai berikut:
  • Administrasi : Keuangan, sumber daya manusia, dokumentasi dan perencanaan (Administration ) jangka panjang.
  • Perusahaan : Menentukan target produksi, merencanakan perusahaan dan sumber
  • (Enterprise) : daya, mengkoordinir lokasi berbeda, mengatur order/pesanan, memprediksi prilaku proses produksi di masa depan khususnya untuk pemeliharaan peralatan, menelusuri indikasi kunci keberhasilan untuk kepentingan optimasi aset.
  • Rekayasa/Produksi : Mengatur pelaksanaan, sumber daya, alur kerja, pengawasan (Manufacturing) kualitas, jadwal produksi, pemeliharaan, menyimpan data pabrik dan produk untuk keperluan proses berikutnya dengan cara yang aman, menelusuri proses produksi dan produk untuk sistem manajemen dan informasi pabrik (plant information and management system PIMS).
  • Pengawasan : Mengawasi lokasi dan produksi, mengoptimalkan, melaksanakan (Supervision ) operasi, visualisasi proses produksi dalam bentuk panel display / SCADA ) (man-machine interface-MMI), menyimpan data proses dan membukukan operasi produksi.
  • SCADA: urutan perintah operasi, proteksi dan penyambungan.
  • Field : Mengakuisisi data (sensor dan aktuator) dan mentransmisikan data. Level Field berinteraksi dengan sistem mekanis proses (primary technology) secara tidak langsung.

Profesi bidang otomasi industri merupakan profesi yang diperlukan oleh industri manufaktur. Industri ini dapat digolongkan menjadi dua, yaitu industri pembuat/vendor sistem otomasi dan industri pemakai sistem otomasi. Bidang-bidang pekerjaan dari kedua jenis industri ini diperlihatkan pada tabel berikut :

PENGELOMPOKAN SISTEM OTOMASI INDUSTRI

Sistem Otomasi Industri berdasarkan konfigurasi sistem kontrol, fasilitas dan
cakupan kerjanya dikelompokkan menjadi:
  1. Direct Digital Control (DDC), pada sistem ini, proses dikontrol langsung oleh kontroler elektronik/komputer. Sistem ini banyak diterapkan pada pabrik pengolahan dengan mesin prose sederhana (mesin pengemasan kosmetik, mesin pengolahan kayu, mesin pengemasan makanan, mesin pengemasan obat dan sebagainya). Pada level otomasi industri menempati Level-1 (Unit Control/Sell).
  2. Distributed Control System (DCS), Sistem ini menerapkan kontrol terdistribusi, yaitu setiap proses dikontrol oleh masing-masing local controller. Sedangan masing-masing local controller tersebut dikendalikan oleh main controller atau supervisory computer. Sistem ini telah memanfaatkan teknologi jaringan komputer lokal (sering juga dilengkapi denganpanel MMI untuk memonitor proses) dan banyak dipakai pada pabrik pengolahan dengan jumlah proses yang banyak dalam satu jalur produksi (contoh: pabrik pengolahan bahan kimia, pabrik ban, pabrik baja, pabrik kertas dan sebagainya). Pada level otomasi industri menempati Level-1(Group Control).
  3. Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA), Sistem ini dapat dikatakan sebagai DCS yang dilengkapi dengan fasilitas:
  • Display visualisasi proses yang sedang berjalan,
  • Display alarm and kejadian untuk gangguan (alarm log, logbook),
  • Display trend data (numerik dan grafik) dinamis dan hasil analisisnya,
  • Display handbook, datasheet, inventory, expert system (documentation),
  • Komunikasi dan sinkronisasi data dengan kantor pusat.
Pada level otomasi industri menempati Level-2 (SCADA).

PEMETAAN FUNGSI PEKERJAAN BIDANG OTOMASI INDUSTRI
Area fungsional pekerjaan di bidang Otomasi Industri dibagi atas:
  1. Pengoperasian yaitu meliputi fungsi pekerjaan mengoperasikan peralatan dansistem otomasi industri (hard dan software) sesuai spesifikasi operasi yang dipersyaratkan.
  2. Pemeliharaan dan Perbaikan yaitu meliputi fungsi pekerjaan memelihara dan memperbaiki peralatan dan sistem otomasi industri (hard dan software) agar tetap berada pada kondisi sesuai yang dipersyaratkan dari waktu ke waktu.
  3. Perakitan dan Instalasi yaitu meliputi fungsi pekerjaan merakit dan menginstal peralatan dan sistem otomasi industri (hard dan software) sesuai perencanaan.
  4. Pengetesan dan Komisioning yaitu meliputi fungsi pekerjaan mengetes mengatur dan mengevaluasi performa peralatan dan sistem otomasi industri (hard dan software) sesuai yang dipersyaratkan dalam perencanaan.
  5. Perancangan dan Pembuatan yaitu meliputi fungsi merencanakan dan merealisasikan peralatan dan sistem otomasi industri (hard dan software) sesuai spesifikasi yang dipersyaratkan.Analisis Manufaktur
PERKEMBANGAN CAE
Di negara-negara industri seperti Jepang dan Amerika, CAE dipakai oleh hampir seluruh lapisan industri. Baik besar, menengah maupun kecil. Keuntungan pemakaian CAE dalam proses pengembangan sebuah produk bisa disimpulkan sebagai berikut:
Tanpa bantuan CAE, jumlah prototipe yang harus diuji coba sangat banyak sebelum dinyatakan lulus dalam test spesifikasi dan keamanan produk. Dengan CAE, ujicoba bisa dilakukan secara virtual sehingga prototipe yang diperlukan bisa dikurangi secara signifikan. Karena biaya prototipe sebuah produk yang belum diproduksi massal sangat besar, CAE memainkan peranan sangat penting dalam dunia manufaktur modern.
Setiap perubahan disain bisa diuji secara virtual, oleh karena itu frekuensi ujicoba berkurang drastis dengan CAE. Hal ini menyebabkan sebuah produk bisa diselesaikan dalam tempo yang singkat dan dengan akurasi yang tinggi.
Berbeda dengan ujicoba lapangan, simulasi dengan komputer tidak memiliki banyak batasan kondisi eksperimen. Misalnya, dalam ujicoba lapangan kecepatan tabrakan mobil yang bisa dicapai sekitar 50-60 km/jam, paling cepat sekitar 80 km/jam. Tetapi dalam simulasi, tabrakan dengan kecepatan sebuah mobil balap formula 1 pun bisa dicapai. Dengan kelebihan ini, produk bisa diuji dengan berbagai kondisi ekstrim yang akan meningkatkan kualitas produk tersebut.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pemakaian CAE ini adalah kecenderungan memakai software CAE sebagai blackbox yang selalu memberikan hasil benar dalam kondisi apapun. Padahal output dari software CAE tergantung pada input yang diberikan oleh operatornya. Bila input yang diberikan mengandung kesalahan, atau hipotesa-hipotesa yang diambil tidak tepat, maka hasilnya pun akan salah. Di sinilah diperlukan tenaga CAE yang memiliki pengatahuan memadai baik dari segi teori komputasi, maupun dari sudut pemahaman fenomena yang dianalisanya. SimulasiTeknik berusaha memberikan jalan untuk memahami dua hal tersebut: teori komputasi dan masalah rekayasa.

KESIMPULAN
Telah diuraikan diatas sistem otomasi industri betapa pentingnya sistem ini di pakai dalam suatu perusahaan indusri karna sangat membantu daya kerja perusahaan industri tersebut.dinegara Negara berkambang & maju pun menggunakan sistem ini Karena pentingnya, kebutuhan industri akan tenaga-tenaga terampil di bidang CAE/CAPP meningkat pesat. Bahkan di negara-negara industri baru yang terkenal dengan sebutan BRIC (Brasil, Rusia, India dan Cina), kebutuhan tenaga CAE/CAPP ini mengalami boom.

Minggu, 20 Desember 2009

peranan gaya kepemimpinan dalam organisasi

A. Konsep Kepemimpinan

Dalam pencapaian tujuan organisasi, manajemen merupakan sarana yang paling utama, sebab manajemen pada hakikatnya adalah serangkai kegiatan yang dilaksanakan para manajer/pemimpin untuk mengerahkan, menggerakkan, dan mengarahkan segala sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan secara efisien dan efektif.

Anonim (2000: 1) mengemukakan bahwa tanpa organisasi tak ada manajemen dan sebaliknya tanpa manajemen tak ada organisiasi. Manajemen merupakan organ spesifik dari organisasi modern. Manajemen adalah organisasi kerja tempat bergantung prestasi dan keberhasilan serta kelangsungan hidup organisasi. Organisasi berkembang sejalan dengan perubahan ilmu dan teknologi yang semakin canggih disertai tantangan-tantangan baru yang harus dihadapi.

Menurut Wahjosumidjo (1994:32) bahwa ada tiga gejala penting yang dimiliki oleh setiap organisasi yaitu : (1) setiap organisasi harus mempunyai tujuan, (2) untuk mencapai tujuan tersebut harus ada program, (3) setiap organisasi harus memiliki pemimpin atau manajer yang bertanggung jawab terhadap organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Berdasarkan ketiga unsur pokok yang menandai setiap kehidupan organisasi, membarikan kesimpulan betapa pentingnya peranan manajemen di dalam eksistensi suatu organisasi dan betapa besar peranan pemimpin atau manajer dalam mengembah tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

Anonim (2000: 2) bahwa manajemen adalah proses kerja sama antara manusia dalam mencapai tujuan organisasi melalui dan dengan bantuan orang lain. Manusia manajemen adalah manusia rasional yang merupakan lanjutan dari manusia organisasi, ialah manusia kerja melalui kemampuan perencanaan dan pelaksanaan. Manajemen mempunyai tiga aspek yang merupakan: (a) bentuk kerja sama (tim kerja sama, ikatan tanpa emosi/disiplin); (b) sistem kerja (produser kerja); (c) tipe kepemimpinan (fungsi pemimpin). Manajemen juga dikatakan adalah “pengendalaian dari pada badan usaha melalui salah satu unsurnya dengan menitik beratkan pada unsur manusia”. Koontz (dalam Anonim: 2000: 2) mengatakan “managemen is the function of getting things done trough other”. Fungsi manajemen meliputi: (1) perencanaan; (2) pengorganisasian; (3) motivasi; (4) pengarahan; (5) pengawasan dan merupakan fungsi yang berurutan atau seksuensial, namun tak boleh diabaikan fungsi-fungsi berkelanjutan yaitu: (a) analilis persoalan; (b) pengambilan keputusan; (c) komunikasi. Fungsi-fungsi terjadi dalam suatu proses manajemen dan relevan dengan semua tipe dan tingkah laku organisasi termasuk mengelolah rumah tangga, dan tugas utama manajemen adalah: (1) berpikir konseptual, kemampuan memahami kompleksitas organisasi secara kkeseluruhan; (2) mengelola unsur administrasi; (3) memimpin para anggotanya dalam aktivitas manajemen.

Manajemen memerlukan adanya kompetensi karena bertugas menggambarkan misi yang tidak ringan. Dricker (dalam Anonim: 2000: 4) mengatakan ada dua misi khusus (1) menciptakan suatu kenyataan ada/enthy yang produktif; (2) mengharmonisasikan setiap keputusan dan tindakan, dalam rangka tujuan dan sasaran jangka pendek dan jangka panjang. Misi khusus bertujuan (1) menyusun tujuan dan sasaran; (2) mengorganisasikan; (3) memotivasikan standar prestasi; (4) membina orang-orangnya termasuk diri sendiri. Bagian misi pekerjaan. Manajemen sebagai berikut:

Agar dapat melakukan misinya seorang manajer dituntut agar memiliki kemampuan. Kemampuan tersebut ada 3 yaitu:

1. Kemampuan konseptual, seorang manajer menjadi seneralis.
2. kemampuan sosial, manajer tak bisa bekerja sendiri saja.
3. kemampuan teknis, menekankan pada aspek keterampilan profesional.

Selanjutnya Anonim (2000: 5) menyatakan bahwa manajer perlu memiliki keahlian:

1. Memahami perilaku bawahan masa lampau
2. Meramalkan perilaku bawahan waktu mendatang
3. Kepandaian mengerahkan dan mengendalikan perilaku bawahan.

Kemudian pernyataan tersebut dilanjutkan dengan menyebutkan bahwa, manajemen efektif adalah bersifat situasional perlu berpijak pada persyaratan-persyaratan tertentu yang merupakan kondisi umum bagi keberhasilan dan aktivitas manajemen dengan ciri-ciri sebagai berikut:

1. Adanya tujuan dan sasaran yang yang jelas
2. Adanya tanggung jawab dan peranan yang jelas
3. Adanya peraturan dan prosedur yang jelas
4. Adanya keluwesan untuk berubah
5. Adanya suasana interval yang menimbulkan tercapainya prestasi yang berkualitas tinggi atau kondisi.

Dalam proses manajemen melibatkan fungsi-fungsi pokok yang ditampilkan oleh seorang pemimpin atau manajer: perencanaan, pengorganisasian kepemimpinan, adn pengawasan. Winarso (1991: 4) memberi bobot kegiatan pemimpin dari keempat fungsi manajem pada kegiatan kepemimpinan sebab yang dihadapi dalam usaha mempengaruhi, membimbing, mengarahkan, dan menggerakkan adalah 6 M (Man, Money, Material, Machine, Methods, and Markets) sehingga tercapai tujuan organisasi yang efisien dan efektif. Senada dengan itu Stogdill (dalam Wahjosumidjo, 1994: 23) mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah titik sentral proses kegiatan kelompok, sebab dalam kehidupan organisasi, dari kepemimpinan diharapkan lahirnya perubahan kegiatan, dan seluruh proses kegiatan kelompok. Oleh karena itu kepemimpinan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kelompok dan merupakan inti dari proses manajemen.

Kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang sedangkan pemimpin merupakan orang yang diakui dan diterima oleh orang lain atau kelompok sebagai pribadi yang mempunyai kemampuan tersebut. Mengenai timbulnya seorang pemimpin atas asal usul seorang pemimpin yang efektif, para ahli dan praktis kepemimpinan yang mempunyai pandangan yang berbeda, menurut Siagian (1994: 9) perbedaan pandangan tersebut secara umum dapat dibedakan pada dua kubu yang masing-masing secarah gigih membela pendirian dan pendapatnya.

Kubu yang pertama berpendapat bahwa “pemimpin dilahirkan” pandangan ini berkisar pada pendapat bahwa seorang hanya akan manjadi pemimpin yang efektif karena ia dilahirkan dengan bakat-bakat kepemimpinan. Pandangan ini diwarnai oleh filsafat hidup yang diterministik dalam arti adanya kenyakinan para penganutnya bahwa jika seorang memang sudah “ditakdirkan” menjadi pemimpin, terlepas dari perjalanan hidup bersangkutan, akan timbul situasi yang menempatkan orang yang bersangkutan tampil sebagai pemimpin yang efektif dalam menjalankan fungsi-fungsi kepemimpinan. Dengan demikian pandangan ini mengangagap bahwa tidak seorang pemimpin yang efektif bila tidak dilahirkan dengan bakat-bakat kepemimpinan.

Kubu yang kedua berpendapat bahwa “pemimpin dibentuk dan ditempa”. Pandangan ini berkisar pada pendapat yang mengatakan efektivitas kepemimpinan seseorang yang dapat dibentuk dan ditempa dengan alam memberikan kesempatan yang luas kepada yang bersangkutan untuk menumbuhkan dan mengembangkan efektivitas kepemimpinannya melalui berbagai kegiatan pendidikan dan latihan kepemimpinan. Dengan pendidikan dan pelatihan kepemimpinan yang terarah dan intensif, seseorang dapat belajar tentang berbagai hal yang menyangkut masalah efektivitas kepemimpinan yang akan mengarahkan seseorang untuk menemukan dirinya sebagai pemimpin yang efektif.

Menurut Siagian (1994: 11) paradigma kepemimpinan yang efektif harus didasarkan pada kedua kubu tersebut, sehingga seseorang hanya akan menjadi pemimpin yang efektif apabila : (1) seorang secara genetika telah memiliki bakat kepemimpinan. (2) bakat-bakat tersebut dipupuk dan dikembangkan melalui kesempatan untuk menduduki jabatan kepemimpinan (3) ditopang oleh pengetahuan teoritikal yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan, baik yang bersifat umum maupun yang menyangkut teori kemampuan.

Defenisi kepemimpinan yang telah diungkapkan oleh banyak ahli diantaranya : Ordway Tead (dalam Sutarto, 1986: 12) beranggapan bahwa kepemimpinan adalah aktivitas mempengaruhi orang-orang agar mau bekerja sama untuk mencapai beberapa tujuan yang mereka inginkan. Selanjutnya Stogdill (dalam Sutarto, 1986: 13) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan-kegiatan kelompok oang yang terorganisir dalam usaha mereka menetapkan tujuan dan mencapai tujuan. Oleh karena itu kegiatan si pemimpin adalah mengarahkan tingkah laku orang lain ke suatu tujuan tertentu. Selanjutnya Keating (1986: 9) melihat kepemimpinan itu adalah proses dengan berbagai cara mempengaruhi orang atau kelompok orang untuk mencapai suatu tujuan bersama.

Koontz (1992: 147) mengemukakan bahwa kepemimpinan merupakan pengaruh, seni, atau proses mempengaruhi orang-orang sehingga mereka akan berusaha mencapai tujuan kelompok dengan kemempuan dan antuasias. Robert (dalam Thoha, 1996: 227) mengartikan kepemimpinan itu sebagai pelaksanaan otoritas dan pengambilan keputusan. Sementara itu Hemphill (dalam Thoha, 1996: 227) mengartikan kepemimpinan adalah suatu inisiatif untuk bertindak yang menghasilkan suatu pola yang konsisten dalam rangka mencari jalan pemecahan dari suatu persoalan bersama.

Defenisi kepemimpinan tersebut di atas memberi arahan untuk membuat suatu kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses interaksi antara pemimpin sebagai orang yang lebih berpengaruh untuk mengarahkan seluruh jajaran dan sumber daya organisasi yang dipimpinnya, dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan. Untuk mendapatkan hasil yang terbaik, maka pemimpin harus menjadi agen perubahan yang menerima ide-ide baru, tanggap terhadap kebutuhan bawahannya, dan siap menjadi fasilitator dan inisiator, serta mau dan mampu melaksanakan ide-ide baru yang disepakati.

Kepemimpinan sebagai suatu konsep manajemen di dalam kehidupan organisasi mempunyai kedudukan strategis karena kepemimpinan merupakan titik sentral dan dinamisator seluruh proses kegiatan organisasi. Oleh karena itu, kepemimpinan selalu diperlukan di dalam kehidupan kelompok yang bekerja dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang sedangkan pemimpin merupakan orang yang diakui dan diterima oleh orang lain atau kelompok sebagai pribadi yang mempunya kemampuan tersebut.

Kemampuan yang dimiliki oleh setiap pemimpin itu tidak selalu sama karena adanya keterbatasan dan kelebihan-kelebihan tertentu pada diri manusia. Perbedaan itu dapat dilihat dari metode/cara pemimpin untuk

mengarahkan anggota untuk mencapai tujuan atau menyelesaikan pekerjaan. Hal itu disebabkan oleh latar belakang dan pengalaman serta pengetahuan setiap pemimpin tidak sama.

B. Pengertian Pemimpin dan Kepemimpinan

Kepemimpinan mencerminkan asumsi bahwa kepemimpinan menyengkut sebuah proses pengaruh sosial yang dalam hal ini pengaruh yang sengaja dijalankan oleh seseorang terhadap orang lain untuk mengatur aktivitas-aktivitas serta hubungan-hubungan di dalam sebuah kelompok atau organisasi.

Berbagai pendapat tentang pemimpin dan kepemimpinan dikemukakan oleh para ahli, namun dari berbagai macam literatur tidak ada kesepakatan mengenai definisi tersebut. Beberapa defenisi yang dikemukakan itu dipelopori oleh Frederick Winslow Taylor pada abad ke-20 dan berkembang menjadi suatu ilmu kepemimpinan yang menyatakan kepemimpinan tidak lagi didasarkan pada bakat dan pengalaman saja, tetapi pada penyiapan secara berencana, melatih calon-calon pemimpin, semuanya dilakukan lewat perencanaan, penyelidikan, percobaan, analilis, supervisi, serta sifat kepemimpinan yang unggul agar mereka berhasil dalam tugasnya.

Pemimpin mengacu pada oarngnya (manusia), sedangkan kepemimpinan terutama mengacu kepada sifat, gaya, perilaku, dan seni yang digunakan untuk memimpin. Setiap pemimpin seyogyanya memiliki kepemimpinan namun tidak semua pemimpin memiliki kepemimpinan yang ideal diterapkan pada organisasi dimana ia ditetapkan sebagai seorang pemimpin. Seorang pemimpin dapat saja memiliki beberapa gaya kepemimpinan namun demikian senantiasa pada diri seseorang pemimpin akan tanpak gaya kepemimpinan yang paling menonjol.

Kartono (1993: 33-34) membberikan definisi pemimpin. Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya disatu bidang, sehingga ia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas tertentu demi pencapaian tujuan.

Pemimpin merupakan seorang yang memiliki kelebihan, sehingga dia mempunya kekuasaan dan kewibawaan untuk mengarahkan dan membimbing bawahannya, sehingga dapat mengarahkan mereka ke arah pencapaian tujuan yang telah disepakati. Pemimpin menciptakan suatu perubahan yang paling efektif dalam penampilan kelompoknya. Pemimpin merupakan orang yang menempati peranan sentral atau posisi dominan dan pengaruh dalam suatu kelompok. Dengan demikian inti dari pengertian pemimpin adalah peranan kunci, dominasi serta pengaruh.

Kepemimpinan adalah suatu proses keadaan dimana orang-orang karena kemampuan untuk mengulangi masalah-masalah dalam kehidupan kelompoknya, diikuti oleh orang lain di dalam kelompok tersebut, serta dapat mendorong serta dapat mempengaruhi tingkah laku mereka.

Dari definisi di atas, kepemimpinan dapat didasarkan atas pengaruh dalam diri pribadi seseorang yang secara spontan tergerak baik fisik, keberanian, kepeduluian, atau atas dasar suatu prestasi yang diperoleh dari keahlian, pengetahuan dan berbagai faktor lainnya. Kepemimpinan merupakan tingkatan mengorganisir dan mengarahkan berbagai aktivitas serta kepentingan kelompok maupun perseoranggan dalam ikatan proyek ataupun perusahaan tertentu oleh seseorang yang membangun suatu kerja sama melalui pengalaman dan pemeliharaan guna mencapai tujuan bersama.

Terri dalam Kartono (1993: 49) dikatakan hawa kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang agar mereka suka berusaha mencapai tujuan-tujuan kelompok.

Berdasarkan uraian tentang kepemimpinan seperti yang telah dikemukakan di atas, maka secara sederhana dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses penerapan dan penggunaan kemampuan, kekuasaan, mengambil keputusan dan memiliki kemampuan, mengatasi masalah yang muncul dalam kelompoknya.

Berkenaan dengan hal tersebut maka perlu diketahui bahwa beberapa hal penting dalam kepemimpinan, antara lain : (1) Kemampuan melihat organisasi secara keseluruhan; (2) Kemampuan mengambil keputusan-keputusan; (3) Kemampuan mendelegasikan wewenang; dan (4) Kemampuan menanamkan kesetiaan.

Kepemimpinan pada dasarnya adalah salah satu faktor yang harus ada dalam organisasi, sebab suatu organisasi terdiri dari sekelompok orang yang bekerja di bawah pengarahan kepemimpinan bagi pencapaian tujuan yang pasti. Sehingga dapat dikatakan bahwa kepemimpinan mempengaruhi perilaku orang lain dalam situasi tertentu agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

C. Teori Kepemimpinan

Kegiatan manusia secara bersama-sama selalu membuktikan kepemimpinan. Jadi harus ada pemimpin demi sukses dan efisiensi kerja. Untuk bermacam-macam usaha dan kegiatan manusia yang jutaan banyaknya ini diperlukan upaya yang terencana dan sistematis untuk melatih dan mempersiapkan pemimpin-pemimpin baru. Oleh karena itu banyak studi dan penelitian dilakukan orang untuk mempelajari masalah pemimpin dan kepemimpinan. Dan para sarjana telah memberikan berbagai defenisi mengenai pemimpin dan kepemimpinan, dengan menonjolkan satu atau beberapa aspek tertentu sesuai dengan ide pencetus definisi tersebut, beserta interpretasinya.

Banyak sekali studi ilmiah yang telah dilakukan oleh teoritikus mengenai kepemimpinan, dan hasilnya berupa teori-teori tentang kepemimpinan yang mempunyai penekanan pada sisi lain yang berbeda. Dan para penganutnya berkeyakinan bahwa teori itulah yang paling benar dan paling tepat.

Menurut Terry dikemukakan bahwa teori-teori kepemimpinan terdiri dari : (1) teori otokratis (2) teori psikologis (3) teori sosiologi (4) teori suportif (5) teori laissez faire (6) teori kelakuan pribadi (7) teori situasi dan (8) teori humanistik/ populistik.

Dari pendapat tersebut di atas maka dapat dijelaskan teori-teori kepemimpinan yang dimaksud dengan uraian sebagai berikut :

(1) Teori Otokratis

Kepemimpinan menurut teori ini berdasarkan atas perintah-perintah, paksaan dan tindakan-tindakan yang arbitrer (sebagai wasit). Ia melakukan pengawasan yang ketat, agar semua pekerjaan berlangsung secara efisien. Kepemimpinannya berorientasikan pada struktur organisasi dan tugas-tugas.

Pemimpin tersebut pada dasarnya selalu mau berperan sebagai pemain tunggal dan berambisi untuk merajai situasi. Pemimpin yang masuk ke dalam teori ini selalu memberikan perintah-perintah yang dipaksakan dan harus dipatuhi, menentukan kebijakan untuk semua pihak tanpa berkonsultasi dengan para anggota, dan tidak memberikan informasi secara detail mengenai rencana yang akan datang.

(2) Teori Psikologis

Teori ini menyatakan, bahwa fungsi seorang pemimpin adalah memunculkan dan mengembangkan sistem motivasi tterbaik, untuk merangsang kesediaan bekerja dari para pengikut dan anak buah. Pemimpin merangsang bawahan, agar mereka mau bekerja, guna mencapai sasaran-sasaran organisatoris maupun untuk memenuhi tujuan-tujuan pribadi.

Teori ini lebih mengedepankan aspek-aspek psikologis manusia, seperti : pengakuan, martabat, status sosial, kepastian emosional, memperhatikan keinginan dan kebutuhan pegawai, kegairahan kerja, minat, suasana hati dan lain-lain.

(3) Teori Sosiologis

Kepemimpinan dianggap sebagai usaha-usaha untuk melancarkan antar-relasi dalam organisasi, dan sebagai usaha untuk menyelesaikan setiap konflik organisatoris antara para pengikutnya, agar tercapai kerjasama yang baik. Pemimpin menetapkan tujuan-tujuan dengan menyertakan para pengikut dalam pengambilan keputusan terakhir.

Setiap anggota mengetahui hasil apa, keyakinan apa, dan kelakuan apa yang diharapkan kepada mereka oleh pemimpin dan kelompoknya. Pemimpin diharapkan dapat mengambil tindakan-tindakan korektif apabila terdapat kepincangan-kepincangan dan penyimpangan-penyimpangan dalam organisasi.

(4) Teori Suportif

Menurut teori ini, para pengikut harus berusaha sekuat mungkin, dan bekerja dengan penuh gairah. Sedangkan pemimpin akan membimbing dengan sebaik-baiknya melalui kebijakan tertentu. Untuk maksud ini, pemimpin perlu menciptakan suatu lingkungan kerja yang menyenangkan, dan bisa membantu mempertebal keinginan setiap pengikutnya untuk melaksanakan pekerjaan sebaik mungkin, sanggup bekerjasama dengan pihak lain, mau mengembangkan bakat dan keterampilannya dan menyadari benar keinginan sendiri untuk maju.

Ada pihak yang menanamkan teori suportif ini sebagai teori partisipatif, dan ada pula yang menanamkannya sebagai teori kepemimpinan demokratis.

(5) Teori Laissez Faire

Kepemimpinan laissez faire ditampilkan oleh seorang tokoh yang sebenarnya tidak becus mengurus, dan dia menyerahkan semua tanggung jawab serta pekerjaan kepada bawahan atau kepada semua anggotanya. Dan dia sebagai ketua yang bertindak sebagai simbol, dengan macam-macam hiasan atau ornamen yang mentereng. Biasanya dia tidak memiliki keterampilan teknis, sedangkan kedudukan sebagai pemimpin dimungkinkan oleh sistem nepotisme, atau lewat praktek penyuapan.

Pendeknya, pemimpin laissez faire itu pada intinya bukanlah seorang pemimpin dalam pengertian yang sebenarnya. Semua anggota yang dipimpinnya bersikap santai-santai dan bermotto “lebih baik tidak usah bekerja”. Mereka menunjukkan sikap acuh tak acuh. Sehingga kelompok tersebut praktis menjadi tidak terbimbing dan tidak terkontrol.

(6) Teori Kepemimpinan Pribadi

Kepemimpinan jenis ini akan muncul berdasarkan kualitas-kualitas pribadi atau pola-pola kelakuan para pemimpinnya. Teori ini menyatakan, bahwa seorang pemimpin itu selalu berkelakuan kurang lebih sama, yaitu ia tidak pernah melakukan tindakan-tindakan yang identik sama dalam setiap situasi yang dihadapi. Dengan kata lain, dia harus mampu bersikap fleksibel, luwes, bijaksana, dan mempunyai daya lenting yang tinggi, karena dia harus mampu mengambil langkah-langkah yang paling tepat untuk suatu masalah. Sedang masalah sosial itu tidak akan pernah identik dalam waktu yang berbeda.

(7) Teori Situasi

Teori ini menjelaskan, bahwa harus terdapat daya lenting yang tinggi/ fleksibilitas pada pemimpin untuk menyesuaikan diri terhadap tuntutan situasi, lingkungan sekitar dan zamannya. Teori situasi ini lebih menitikberatkan pada dinamika interaksi antara pemimpin dengan bawahan melalui interaksi, untuk menjaring dan memenuhi harapan dan keinginan bawahan secara mendasar. Sebab bawahan itu adalah subyek yang memiliki keinginan, perasaan dan harapan yang harus diperhatikan oleh pemimpin.

(8) Teori Humanistik/ Populistik

Fungsi kepemimpinan menurut teori ini adalah merealisir kebebasan manusia dan memenuhi segenap kebutuhan insani, yang dicapai melalui interaksi pemimpin dengan bawahan. Untuk melakukan hal ini perlu adanya organisasi yang baik dan pemimpin yang baik, yang mau memperhatikan kepentingan dan kebutuhan bawahan.

Fokus dari teori ini adalah bawahan dengan segenap harapan dan kebutuhan harus diperhatikan, dan pemerintah mau mendengar suara hati nurani rakyat, agar tercapai organisasi yang makmur, adil dan sejahtera bagi setiap warga negara dan individu.

D. Gaya Kepemimpinan

Gaya kepemimpinan banyak mempengaruhi keberhasilan sorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku bawahannya. Istilah gaya secara kasar adalah sama dengan cara yang digunakan pemimpin di dalam mempengaruhi para pengikutnya. Kepemimpinan suatu organisasi perlu mengembangkan staf dan membangun iklim motivasi yang menghasilkan tingkat produktivitas yang tinggi, maka pemimpin perlu memikirkan tingkat gaya kepemimpinannya. Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang dihunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang ia lihat. Usaha menyelaraskan persepsi di antara orang akan mempengaruhi menjadi amat penting kedudukannya.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mengetahui kesuksesan pemimpin ialah dengan mempelajari gayanya, karena gaya kepemimpinan banyak mempengaruhi keberhasilan seorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku bawahannya.

Istilah gaya secara kasar adalah sama dengan cara yang dipergunakan pemimpin dalam mempengaruhi para pengikutnya. Thoha (1997:52) mengatakan bahwa gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain. Dalam hal ini usaha menyelaraskan persepsi di antara orang yang akan mempengaruhi dengan orang yang perilakunya dipengaruhi menjadi sangat penting kedudukannya.

Gaya kepemimpinan ialah cara pemimpin membawa diri sebagai pemimpin, cara berlagak dalam menggunakan kekuasaannya, misalnya (1) gaya kepemimpinan otoriter, (2) gaya kepemimpinan demokratis, (3) gaya kepemimpinan paternalistik. Selanjutnya Keating (1986:9) mengatakan bahwa gaya kepemimpinan hanya ada dua macam, yaitu: (1) gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas (task oriented) dan (2) gaya kepemimpinan yang berorientasi pada manusia (Human relationship oriented).

Dalam berbagai literatur ditemukan istilah gaya kepemimpinan dari tipe kepemimpinan secara bersamaan. Antara gaya kepemimpinan dan tipe kepemimpinan diartukan sebagai suatu yang identik, seperti yang dikemukakan oleh Siagian (1994:30) bahwa gaya kepemimpinan seseorang akan identik dengan tipe kepemimpinan orang yang bersangkutan yang meliputi: (1) gaya/tipe otokratik, (2) gaya/tipe paternalistik, (3) gaya/tipe kharismatik, (4) gaya/tipe laissez-faire, dan (5) gaya/tipe demokratis.

Lewin, Lippit, dan White (dalam Salusu: 1996: 194) mengemukakan bahwa pada dasarnya ada tiga gaya kepemimpinan, yaitu: otokratik, demokratik dan laissez-faire, kemudian gatto (dalam Salusu: 1996: 194) melengkapi menjadi empat, yaitu: direkatif, konsultatif, partisipatif, dan delegatif.

Menurut Siagian (1994:32) bahwa persoalan yang mendasar apabila membahas masalah kepemimpinan. Di satu sisi para ahli berpendapat bahwa gaya kepemimpinan seseorang bersifat fixed sehingga tidak berubah meskipun.

Gaya kepemimpinan banyak mempengaruhi keberhasilan seorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku bawahannya. Istilah gaya secara kasar adalah sama dengan cara yang dipergunakan pemimpin di dalam mempengaruhi para pengikutnya. Kepemimpinan suatu organisasi perlu mengembangkan staf dan membangun iklim motivasi yang menghasilkan tingkat produktivitas yang tinggi, maka pemimpin perlu memikirkan gaya kepemimpinannya. Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mengetahui kesuksesan pemimpin ialah dengan mempelajari gayanya, karena gaya kepemimpinan banyak mempengaruhi keberhasilan seseorang pemimpin dalam mempengaruhi bawahannya.

Menurut teori situassional Siagian (1994:18) seorang pemimpin yang menjadi demokratik sekalipun akan mengubah gaya kepemimpinan, misalnya menjadi demokratik apabila situasi menuntutnya demikian. Begitu pula yang paling otokratik, mungkin saja bertindak otoriter pada situasi yang lain.

Menurut Harsei dan Blancard (dalam Thoha, 1996:278) bahwa konsepsi kepemimpinan situasional adalah dengan memperhatikan variabel-variabel yang penting, misalnya: organisasi, tugas-tugas, pekerjaan, pengawasan, dan waktu kerja akan tetapi penekanan dalam kepemimpinan situasional hanyalah pada perilaku pemimpin dan bawahan saja.

Dari konsep dasar kepemimpinan situasi adalah kedewasaan/kematangan bawahan. Begitu tingkat kedewasaan berusaha menyelesaikan suatu tugas meningkat, maka manajer harus mengurangi orientasi pada tugasn, dan mulai meningkatkan orientasi pada hubungan (hubungan atasan-bawahan), sampai bawahan mencapai tingkat sedang. Begitu bawahan mulai bergerak tingkat kedewasaannya dari sedang ke dewasa, adalah tepat saatnya bagi manajer yang mengurangi baik orientasi kepada bawahan maupun orientasi kepada tugas.

Dengan demikian, bawahan tidak saja dewasa menyelesaikan tugas, tetapi juga dewasa secara psikologis. Kepemimpinan situasi yang menggunakan konsep dsar kedewasaan/kematangan bawahan ini baru berarti apabila peran pemimpin/manajer dalam memotivasi bawahan tepat diberikan kepada bawahan sesuai dengan tingkat kedewasaannya. Dengan demikian, organisasi dapat menjadi efektif.

Sehubungan dengan konsep dasar kepemimpinan situasi yang menggunakan kedewasaan bawahan maka gaya kepemimpinan atasan sangat terkait dengannya.

Pentingnya gaya kepemimpinan diterapkan kepada bawahan sesuai dengan kedewasaan/kematangan bawahan merupakan persyaratan mutlak keefektifan kepemimpinan dalam keberhasilan organisasi.

Gaya kepemimpinan banyak mempengaruhi keberhasilan seorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku bawahannya. Istilah gaya secara kasar adalah sama dengan cara yang dipergunakan pemimpin di dalam mempengaruhi para pengikutnya. Kepemimpinan suatu organisasi perlu mengembangkan staf dan membangun iklim motivasi yang menghasilkan tingkat produktivitas yang tinggi, maka pemimpin perlu memikirkan gaya kepemimpinannya. Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain.

Dengan demikian, kepemimpinan seorang pemimpin harus dapat menjalin hubungan pribadi yang baik antara yang dipimpin dengan yang memimpin, sehingga timbul rasa saling hormat-menghormati, percaya-mempercayai, saling tolong-menolong, dan rasa senasip sepenanggungan. Jadi, seorang pemimpin harus mampu berpikir secara sistematis dan teratur, mempunyai pengalaman dan pengetahuan serta mampu menyusun rencana tentang apa yang akan dilakukan.

Perilaku kepemimpinan atau leadership behavior tentu tidak dapat dilepaskan dari pembahasan tentang leadership style atau gaya kepemimpinan. Berbicara tentang kepemimpinan, orang cenderung berasosiasi tentang ungkapan klasik mengenai gaya kepemimpinan. Menurut Kusmintarjo dan Burhanuddin (1997-10) bahwa “Kepemimpinan itu situasional, artinya suatu gaya kepemimpinan dapat efektif untuk situasi tertentu dan kurang efektif untuk situasi yang lain. Ternyata gaya-gaya itu bervariasi adanya. Tergantung pada situasi kematangan bawahan (terpimpin) yang akan dibinanya.

Pada dasarnya, ada tiga gaya kepemimpinan seperti yang dikembangkan oleh Lewin, Lippit, dan White yaitu: Otokratik, Demokratik, dan Laissez-faire, kemudian dilengkapi menjadi empat, yaitu gaya direktif, gaya konsultatif, gaya partisipatif, dan gaya delegasi (Gatto, dalam Salusu, 1996).

Menurut Rustandi (1987:27-28) dijelaskan bahwa gaya kepemimpinan ada empat macam, yaitu:

1. Gaya Kepemimpinan Otokratis

Gaya ini kadang-kadang dikatakan kepemimpinan terpusat pada diri pemimpin atau gaya direktif. Gaya ini ditandai dengan sangat banyaknya petunjuk yang datangnya dari pemimpin dan sangat terbatasnya bahkan sama sekali tidak adanya peran serta anak buah dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.

Pemimpin secara sepihak menentukan peran serta apa, bagaimana, kapan, dan bilamana berbagai tugas harus dikerjakan. Yang menonjol dalam gaya ini adalah pemberian perintah.

Pemimpin otokratis adalah seseorang yang memerintah dan menghendaki kepatuhan. Ia memerintah berdasarkan kemampuannya untuk memberikan hadiah serta menjatuhkan hukuman.

Gaya kepemimpinan otokratis adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dengan cara segala kegiatan yang akan dilakukan semata-mata diputuskan oleh pimpinan.

Adapun ciri-ciri gaya kepemimpinan otokratis adalah sebagai berikut:

1.1 Wewenang mutlak terpusat pada pemimpin;

1.2 Keputusan selalu dibuat oleh pemimpin;

1.3 Kebijakan selalu dibuat oleh pemimpin;

1.4 Komunikasi berlangsung satu arah dari pimpinan kepada bawahan;

1.5 Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau kegiatan para bawahannya dilakukan secara ketat;

1.6 Tidak ada kesempatan bagi bawahan untuk memberikan saran pertimbangan atau pendapat;

1.7 Tugas-tugas bawahan diberikan secara instruktif;

1.8 Lebih banyak kritik dari pada pujian, menuntut prestasi dan kesetiaan sempurna dari bawahan tanpa syarat, dan cenderung adanya paksaan, ancaman, dan hukuman.

1. Gaya Kepemimpinan Birokratis

Gaya ini dapat dilukiskan dengan kalimat “memimpin berdasarkan peraturan”. Perilaku pemimpin ditandai dengan keketatan pelaksanaan prosedur yang berlaku bagi pemipin dan anak buahnya.

Pemimpin yang birokratis pada umumnya membuat keputusan-keputusan berdasarkan aturan yang ada secara kaku tanpa adanya fleksibilitas. Semua kegiatan hampir terpusat pada pimpinan dan sedikit saja kebebasan orang lain untuk berkreasi dan bertindak, itupun tidak boleh lepas dari ketentuan yang ada.

Adapun karakteristik dari gaya kepemimpinan birokratis adalah sebagai berikut:

2.1 Pimpinan menentukan semua keputusan yang bertalian dengan seluruh pekerjaan dan memerintahkan semua bawahan untuk melaksanakannya;

2.2 Pemimpin menentukan semua standar bagaimana bawahan melakukan tugas;

2.3 Adanya sanksi yang jelas jika seorang bawahan tidak menjalankan tugas sesuai dengan standar kinerja yang telah ditentukan.

1. Gaya Kepemimpinan Demokratis

Gaya kepemimpinan demokratis adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan cara berbagai kegiatan yang akan dilakukan ditentukan bersama antara pimpinan dan bawahan.

Gaya ini kadang-kadang disebut juga gaya kepemimpinan yang terpusat pada anak buah, kepemimpinan dengan kesederajatan, kepemimpinan konsultatif atau partisipatif. Pemimpin kerkonsultasi dengan anak buah untuk merumuskan tindakan keputusan bersama.

Adapun ciri-cirinya sebagai berikut:

3.1 Wewenang pemimpin tidak mutlak;

3.2 Pimpinan bersedia melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan;

3.3 Keputusan dan kebijakan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan;

3.4 Komunikasi berlangsung secara timbal balik, baik yang terjadi antara pimpinan dan bawahan maupun sesama bawahan;

3.5 Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau kegiatan para bawahan dilakukan secara wajar;

3.6 Prakarsa dapat datang dari pimpinan maupun bawahan;

3.7 Banyak kesempatan bagi bawahan untuk menyampaikan saran, pertimbangan atau pendapat;

3.8 Tugas-tugas kepada bawahan diberikan dengan lebih bersifat permintaan dari pada intruksi;

3.9 Pimpinan memperhatikan dalam bersikap dan bertindak, adanya saling percaya, saling menghormati.

1. Gaya Kepemimpinan Laissez Faire

Gaya ini mendorong kemampuan anggota untuk mengambil inisiatif. Kurang interaksi dan kontrol yang dilakukan oleh pemimpin, sehingga gaya ini hanya bisa berjalan apabila bawahan memperlihatkan tingkat kompetensi dan keyakinan akan mengejar tujuan dan sasaran cukup tinggi.

Dalam gaya kepemimpinan ini, pemimpin sedikit sekali menggunakan kekuasaannya atau sama sekali membiarkan anak buahnya untuk berbuat sesuka hatinya. Adapun ciri-ciri gaya kepemimpinan Laissez Faire adalah sebagai berikut:

4.1 Bawahan diberikan kelonggaran atau fleksibel dalam melaksanakan tugas-tugas, tetapi dengan hati-hati diberi batasan serta berbagai produser;

4.2 Bawahan yang telah berhasil menyelesaikan tugas-tugasnya diberikan hadiah atau penghargaan, di samping adanya sanksi-sanksi bagi mereka yang kurang berhasil, sebagai dorongan;

4.3 Hubungan antara atasan dan bawahan dalam suasana yang baik secara umum manajer bertindak cukup baik;

4.4 Manajer menyampaikan berbagai peraturan yang berkaitan dengan tugas-tugas atau perintah, dan sebaliknya para bawahan diberikan kebebasan untuk memberikan pendapatannya;

Sedangkan menurut Max Weber (dalam Ridwan Nasir, 2005:17) meninjau masalah kepemimpinan dari segi legalitas otorita. Max Weber membedakan legalitas otorita menjadi 3, yaitu otorita rasional, otorita tradisional dan otorita kharismatik. Otorita rasional mempunyai hubungan lebih formal dan birokratik, yang lebih mendasarkan pada kompetensi teknik. Otorita tradisional mempertahankan legalitas otorita, dan menuntut orang lain mengakui otoritanya berdasarkan tradisi. Sedangkan legalitas otorita kharismatik diperoleh seseorang karena kharisma pribadinya, bukan berdasar kemudahan sosial atau kompetensi teknik. Kharisma pribadi tersebut dijabarkan dalam sifat-sifat seperti suci, keturunan unggul, kepribadian atau tanda-tanda yang diperkirakan menjadi indikator sifat-sifat tersebut.

Sehubungan dengan hal ini, Sutanto (dalam Kepemimpinan Kyai, 1999:13) mengaitkan legalitas otorita Max Weber menjadi gaya atau tipe kepemimpinan yang diterapkan pondok pesantren. Adapun gaya atau tipe kepemimpinan yang banyak dijumpai di pondok pesantren yaitu :

1. Gaya atau tipe kepemimpinan rasional yaitu tipe kepemimpinan yang mengacu pada suatu pola kepemimpinan yang bersifat kolektif di mana tingkat partisipasi komunitas lebih tinggi, struktur keorganisasian lebih komplek dan sentra kepemimpinan tidak mengarah kepada satu individu melainkan mekanisme kepemimpinan diatur secara manajerial.
2. Gaya atau tipe kepemimpinan tradisional yakni suatu tipe kepemimpinan yang membutuhkan legitimasi formal komunitas pendukungnya dengan cara mencari kaitan keturunan dari tipe kepemimpinan kharismatik.
3. Sedangkan gaya atau tipe kepemimpinan kharismatik yaitu suatu tipe kepemimpinan yang mengacu pada satu figur sentral yang dianggap oleh komunitas pendukungnya memiliki kekuatan supranatural dari Allah, kelebihan dalam berbagai bidang keilmuan, partisipasi komunitas dalam mekanisme kepemimpinan kecil, dan mekanisme kepemimpinan tidak diatur secara birokratik.

Dengan adanya model kepemimpinan yang bertalian langsung terhadap produktivitas, maka Likert (dalam Wihjosumidjo, 1994:73), mengemukakan pendapatnya bahwa suatu organisasi yang tidak produktif disebabkan adanya kecendrungan pemimpin ke arah gaya kepemimpinan otoriter, sebaliknya produktivitas tinggi yang dapat dicapai oleh organisasi, banyak ditentukan oleh adanya gaya kepemimpinan yang konsultatif atau gaya kepemimpinan partisipatif.

Demikian pula apa yang dikemukakan oleh Wendel French (dalam Winardi, 1995:81), mengemukakan bahwa ada beberapa faktor yang berkaitan dengan persoalan kepemimpinan yang perlu diperhatikan secara simultan. Di mana misalnya dapat berusaha untuk memperbaiki iklim organisasi yang membantu kepemimpinan secara efektif.

Selanjutnya Anonim (1999:9) mengemukakan bahwa : kepemimpinan yang berhasil adalah suatu proses kepemimpinan yang dapat memenuhi kebutuhan dari masing-masing situasi dan dapat memilih/menerapkan teknik atau gaya kepemimpinan yang sesuai dengan tuntutan situasi tersebut.

Seorang pemimpin dapat melaksanakan macam-macam gaya kepemimpinan, yang sebagian besar tergantung dari pada watak orang yang bersangkutan. Tetapi, seorang pemimpin yang bijaksana senantiasa akan berusaha untuk menerapkan gaya kepemimpinan yang paling sesuai dengan situasi serta kondisi yang dihadapinya. Setiap pemimpin menjalankan kepemimpinan atau leadership.

Kepemimpinan pada hakekatnya merupakan produk situasional. Dalam hubungan ini, keberhasilan kepemimpinan di sekolah sebenarnya akan lebih banyak ditentukan oleh faktor-faktor situasi seperti: karakteristik individu yang dipimpin, pekerjaan lingkungan sekolah, kebudayaan setempat, kepribadian kelompok, dan bahkan waktu yang dimiliki oleh kepala sekolah.

Demikian pula apa yang dikemukakan oleh Wendel French (dalam Winardi, 1995:81), mengemukakan bahwa ada beberapa faktor yang berkaitan dengan persoalan kepemimpinan yang perlu diperhatikan secara simultan. Di mana misalnya dapat berusaha untuk memperbaiki iklim organisasi yang membantu kepentingan secara efektif. Di samping itu pula, kita dapat mengidentifikasi ciri-ciri dasar pribadi. Pendekatan ke arah kepemimpinan yang lebih efektif adalah menyesuaikan skill khususnya dengan situasi-situasi spesifik. Berdasarkan dimensi-dimensi yang didasarkan atas kekuasaan posisi, struktur tugas, dan hubungan pemimpin dengan bawahan. Para individu dapat diberikan tugas-tugas baru dan atau kelompok-kelompok dapat direstrukturisasi guna memperbaiki hubungan-hubungan pemimpin dengan para anggotanya.

peranan kepemimpinan dalam organisasi

A. Konsep Kepemimpinan

Dalam pencapaian tujuan organisasi, manajemen merupakan sarana yang paling utama, sebab manajemen pada hakikatnya adalah serangkai kegiatan yang dilaksanakan para manajer/pemimpin untuk mengerahkan, menggerakkan, dan mengarahkan segala sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan secara efisien dan efektif.

Anonim (2000: 1) mengemukakan bahwa tanpa organisasi tak ada manajemen dan sebaliknya tanpa manajemen tak ada organisiasi. Manajemen merupakan organ spesifik dari organisasi modern. Manajemen adalah organisasi kerja tempat bergantung prestasi dan keberhasilan serta kelangsungan hidup organisasi. Organisasi berkembang sejalan dengan perubahan ilmu dan teknologi yang semakin canggih disertai tantangan-tantangan baru yang harus dihadapi.

Menurut Wahjosumidjo (1994:32) bahwa ada tiga gejala penting yang dimiliki oleh setiap organisasi yaitu : (1) setiap organisasi harus mempunyai tujuan, (2) untuk mencapai tujuan tersebut harus ada program, (3) setiap organisasi harus memiliki pemimpin atau manajer yang bertanggung jawab terhadap organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Berdasarkan ketiga unsur pokok yang menandai setiap kehidupan organisasi, membarikan kesimpulan betapa pentingnya peranan manajemen di dalam eksistensi suatu organisasi dan betapa besar peranan pemimpin atau manajer dalam mengembah tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

Anonim (2000: 2) bahwa manajemen adalah proses kerja sama antara manusia dalam mencapai tujuan organisasi melalui dan dengan bantuan orang lain. Manusia manajemen adalah manusia rasional yang merupakan lanjutan dari manusia organisasi, ialah manusia kerja melalui kemampuan perencanaan dan pelaksanaan. Manajemen mempunyai tiga aspek yang merupakan: (a) bentuk kerja sama (tim kerja sama, ikatan tanpa emosi/disiplin); (b) sistem kerja (produser kerja); (c) tipe kepemimpinan (fungsi pemimpin). Manajemen juga dikatakan adalah “pengendalaian dari pada badan usaha melalui salah satu unsurnya dengan menitik beratkan pada unsur manusia”. Koontz (dalam Anonim: 2000: 2) mengatakan “managemen is the function of getting things done trough other”. Fungsi manajemen meliputi: (1) perencanaan; (2) pengorganisasian; (3) motivasi; (4) pengarahan; (5) pengawasan dan merupakan fungsi yang berurutan atau seksuensial, namun tak boleh diabaikan fungsi-fungsi berkelanjutan yaitu: (a) analilis persoalan; (b) pengambilan keputusan; (c) komunikasi. Fungsi-fungsi terjadi dalam suatu proses manajemen dan relevan dengan semua tipe dan tingkah laku organisasi termasuk mengelolah rumah tangga, dan tugas utama manajemen adalah: (1) berpikir konseptual, kemampuan memahami kompleksitas organisasi secara kkeseluruhan; (2) mengelola unsur administrasi; (3) memimpin para anggotanya dalam aktivitas manajemen.

Manajemen memerlukan adanya kompetensi karena bertugas menggambarkan misi yang tidak ringan. Dricker (dalam Anonim: 2000: 4) mengatakan ada dua misi khusus (1) menciptakan suatu kenyataan ada/enthy yang produktif; (2) mengharmonisasikan setiap keputusan dan tindakan, dalam rangka tujuan dan sasaran jangka pendek dan jangka panjang. Misi khusus bertujuan (1) menyusun tujuan dan sasaran; (2) mengorganisasikan; (3) memotivasikan standar prestasi; (4) membina orang-orangnya termasuk diri sendiri. Bagian misi pekerjaan. Manajemen sebagai berikut:

Agar dapat melakukan misinya seorang manajer dituntut agar memiliki kemampuan. Kemampuan tersebut ada 3 yaitu:

1. Kemampuan konseptual, seorang manajer menjadi seneralis.
2. kemampuan sosial, manajer tak bisa bekerja sendiri saja.
3. kemampuan teknis, menekankan pada aspek keterampilan profesional.

Selanjutnya Anonim (2000: 5) menyatakan bahwa manajer perlu memiliki keahlian:

1. Memahami perilaku bawahan masa lampau
2. Meramalkan perilaku bawahan waktu mendatang
3. Kepandaian mengerahkan dan mengendalikan perilaku bawahan.

Kemudian pernyataan tersebut dilanjutkan dengan menyebutkan bahwa, manajemen efektif adalah bersifat situasional perlu berpijak pada persyaratan-persyaratan tertentu yang merupakan kondisi umum bagi keberhasilan dan aktivitas manajemen dengan ciri-ciri sebagai berikut:

1. Adanya tujuan dan sasaran yang yang jelas
2. Adanya tanggung jawab dan peranan yang jelas
3. Adanya peraturan dan prosedur yang jelas
4. Adanya keluwesan untuk berubah
5. Adanya suasana interval yang menimbulkan tercapainya prestasi yang berkualitas tinggi atau kondisi.

Dalam proses manajemen melibatkan fungsi-fungsi pokok yang ditampilkan oleh seorang pemimpin atau manajer: perencanaan, pengorganisasian kepemimpinan, adn pengawasan. Winarso (1991: 4) memberi bobot kegiatan pemimpin dari keempat fungsi manajem pada kegiatan kepemimpinan sebab yang dihadapi dalam usaha mempengaruhi, membimbing, mengarahkan, dan menggerakkan adalah 6 M (Man, Money, Material, Machine, Methods, and Markets) sehingga tercapai tujuan organisasi yang efisien dan efektif. Senada dengan itu Stogdill (dalam Wahjosumidjo, 1994: 23) mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah titik sentral proses kegiatan kelompok, sebab dalam kehidupan organisasi, dari kepemimpinan diharapkan lahirnya perubahan kegiatan, dan seluruh proses kegiatan kelompok. Oleh karena itu kepemimpinan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kelompok dan merupakan inti dari proses manajemen.

Kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang sedangkan pemimpin merupakan orang yang diakui dan diterima oleh orang lain atau kelompok sebagai pribadi yang mempunyai kemampuan tersebut. Mengenai timbulnya seorang pemimpin atas asal usul seorang pemimpin yang efektif, para ahli dan praktis kepemimpinan yang mempunyai pandangan yang berbeda, menurut Siagian (1994: 9) perbedaan pandangan tersebut secara umum dapat dibedakan pada dua kubu yang masing-masing secarah gigih membela pendirian dan pendapatnya.

Kubu yang pertama berpendapat bahwa “pemimpin dilahirkan” pandangan ini berkisar pada pendapat bahwa seorang hanya akan manjadi pemimpin yang efektif karena ia dilahirkan dengan bakat-bakat kepemimpinan. Pandangan ini diwarnai oleh filsafat hidup yang diterministik dalam arti adanya kenyakinan para penganutnya bahwa jika seorang memang sudah “ditakdirkan” menjadi pemimpin, terlepas dari perjalanan hidup bersangkutan, akan timbul situasi yang menempatkan orang yang bersangkutan tampil sebagai pemimpin yang efektif dalam menjalankan fungsi-fungsi kepemimpinan. Dengan demikian pandangan ini mengangagap bahwa tidak seorang pemimpin yang efektif bila tidak dilahirkan dengan bakat-bakat kepemimpinan.

Kubu yang kedua berpendapat bahwa “pemimpin dibentuk dan ditempa”. Pandangan ini berkisar pada pendapat yang mengatakan efektivitas kepemimpinan seseorang yang dapat dibentuk dan ditempa dengan alam memberikan kesempatan yang luas kepada yang bersangkutan untuk menumbuhkan dan mengembangkan efektivitas kepemimpinannya melalui berbagai kegiatan pendidikan dan latihan kepemimpinan. Dengan pendidikan dan pelatihan kepemimpinan yang terarah dan intensif, seseorang dapat belajar tentang berbagai hal yang menyangkut masalah efektivitas kepemimpinan yang akan mengarahkan seseorang untuk menemukan dirinya sebagai pemimpin yang efektif.

Menurut Siagian (1994: 11) paradigma kepemimpinan yang efektif harus didasarkan pada kedua kubu tersebut, sehingga seseorang hanya akan menjadi pemimpin yang efektif apabila : (1) seorang secara genetika telah memiliki bakat kepemimpinan. (2) bakat-bakat tersebut dipupuk dan dikembangkan melalui kesempatan untuk menduduki jabatan kepemimpinan (3) ditopang oleh pengetahuan teoritikal yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan, baik yang bersifat umum maupun yang menyangkut teori kemampuan.

Defenisi kepemimpinan yang telah diungkapkan oleh banyak ahli diantaranya : Ordway Tead (dalam Sutarto, 1986: 12) beranggapan bahwa kepemimpinan adalah aktivitas mempengaruhi orang-orang agar mau bekerja sama untuk mencapai beberapa tujuan yang mereka inginkan. Selanjutnya Stogdill (dalam Sutarto, 1986: 13) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan-kegiatan kelompok oang yang terorganisir dalam usaha mereka menetapkan tujuan dan mencapai tujuan. Oleh karena itu kegiatan si pemimpin adalah mengarahkan tingkah laku orang lain ke suatu tujuan tertentu. Selanjutnya Keating (1986: 9) melihat kepemimpinan itu adalah proses dengan berbagai cara mempengaruhi orang atau kelompok orang untuk mencapai suatu tujuan bersama.

Koontz (1992: 147) mengemukakan bahwa kepemimpinan merupakan pengaruh, seni, atau proses mempengaruhi orang-orang sehingga mereka akan berusaha mencapai tujuan kelompok dengan kemempuan dan antuasias. Robert (dalam Thoha, 1996: 227) mengartikan kepemimpinan itu sebagai pelaksanaan otoritas dan pengambilan keputusan. Sementara itu Hemphill (dalam Thoha, 1996: 227) mengartikan kepemimpinan adalah suatu inisiatif untuk bertindak yang menghasilkan suatu pola yang konsisten dalam rangka mencari jalan pemecahan dari suatu persoalan bersama.

Defenisi kepemimpinan tersebut di atas memberi arahan untuk membuat suatu kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses interaksi antara pemimpin sebagai orang yang lebih berpengaruh untuk mengarahkan seluruh jajaran dan sumber daya organisasi yang dipimpinnya, dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan. Untuk mendapatkan hasil yang terbaik, maka pemimpin harus menjadi agen perubahan yang menerima ide-ide baru, tanggap terhadap kebutuhan bawahannya, dan siap menjadi fasilitator dan inisiator, serta mau dan mampu melaksanakan ide-ide baru yang disepakati.

Kepemimpinan sebagai suatu konsep manajemen di dalam kehidupan organisasi mempunyai kedudukan strategis karena kepemimpinan merupakan titik sentral dan dinamisator seluruh proses kegiatan organisasi. Oleh karena itu, kepemimpinan selalu diperlukan di dalam kehidupan kelompok yang bekerja dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang sedangkan pemimpin merupakan orang yang diakui dan diterima oleh orang lain atau kelompok sebagai pribadi yang mempunya kemampuan tersebut.

Kemampuan yang dimiliki oleh setiap pemimpin itu tidak selalu sama karena adanya keterbatasan dan kelebihan-kelebihan tertentu pada diri manusia. Perbedaan itu dapat dilihat dari metode/cara pemimpin untuk

mengarahkan anggota untuk mencapai tujuan atau menyelesaikan pekerjaan. Hal itu disebabkan oleh latar belakang dan pengalaman serta pengetahuan setiap pemimpin tidak sama.

B. Pengertian Pemimpin dan Kepemimpinan

Kepemimpinan mencerminkan asumsi bahwa kepemimpinan menyengkut sebuah proses pengaruh sosial yang dalam hal ini pengaruh yang sengaja dijalankan oleh seseorang terhadap orang lain untuk mengatur aktivitas-aktivitas serta hubungan-hubungan di dalam sebuah kelompok atau organisasi.

Berbagai pendapat tentang pemimpin dan kepemimpinan dikemukakan oleh para ahli, namun dari berbagai macam literatur tidak ada kesepakatan mengenai definisi tersebut. Beberapa defenisi yang dikemukakan itu dipelopori oleh Frederick Winslow Taylor pada abad ke-20 dan berkembang menjadi suatu ilmu kepemimpinan yang menyatakan kepemimpinan tidak lagi didasarkan pada bakat dan pengalaman saja, tetapi pada penyiapan secara berencana, melatih calon-calon pemimpin, semuanya dilakukan lewat perencanaan, penyelidikan, percobaan, analilis, supervisi, serta sifat kepemimpinan yang unggul agar mereka berhasil dalam tugasnya.

Pemimpin mengacu pada oarngnya (manusia), sedangkan kepemimpinan terutama mengacu kepada sifat, gaya, perilaku, dan seni yang digunakan untuk memimpin. Setiap pemimpin seyogyanya memiliki kepemimpinan namun tidak semua pemimpin memiliki kepemimpinan yang ideal diterapkan pada organisasi dimana ia ditetapkan sebagai seorang pemimpin. Seorang pemimpin dapat saja memiliki beberapa gaya kepemimpinan namun demikian senantiasa pada diri seseorang pemimpin akan tanpak gaya kepemimpinan yang paling menonjol.

Kartono (1993: 33-34) membberikan definisi pemimpin. Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya disatu bidang, sehingga ia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas tertentu demi pencapaian tujuan.

Pemimpin merupakan seorang yang memiliki kelebihan, sehingga dia mempunya kekuasaan dan kewibawaan untuk mengarahkan dan membimbing bawahannya, sehingga dapat mengarahkan mereka ke arah pencapaian tujuan yang telah disepakati. Pemimpin menciptakan suatu perubahan yang paling efektif dalam penampilan kelompoknya. Pemimpin merupakan orang yang menempati peranan sentral atau posisi dominan dan pengaruh dalam suatu kelompok. Dengan demikian inti dari pengertian pemimpin adalah peranan kunci, dominasi serta pengaruh.

Kepemimpinan adalah suatu proses keadaan dimana orang-orang karena kemampuan untuk mengulangi masalah-masalah dalam kehidupan kelompoknya, diikuti oleh orang lain di dalam kelompok tersebut, serta dapat mendorong serta dapat mempengaruhi tingkah laku mereka.

Dari definisi di atas, kepemimpinan dapat didasarkan atas pengaruh dalam diri pribadi seseorang yang secara spontan tergerak baik fisik, keberanian, kepeduluian, atau atas dasar suatu prestasi yang diperoleh dari keahlian, pengetahuan dan berbagai faktor lainnya. Kepemimpinan merupakan tingkatan mengorganisir dan mengarahkan berbagai aktivitas serta kepentingan kelompok maupun perseoranggan dalam ikatan proyek ataupun perusahaan tertentu oleh seseorang yang membangun suatu kerja sama melalui pengalaman dan pemeliharaan guna mencapai tujuan bersama.

Terri dalam Kartono (1993: 49) dikatakan hawa kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang agar mereka suka berusaha mencapai tujuan-tujuan kelompok.

Berdasarkan uraian tentang kepemimpinan seperti yang telah dikemukakan di atas, maka secara sederhana dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses penerapan dan penggunaan kemampuan, kekuasaan, mengambil keputusan dan memiliki kemampuan, mengatasi masalah yang muncul dalam kelompoknya.

Berkenaan dengan hal tersebut maka perlu diketahui bahwa beberapa hal penting dalam kepemimpinan, antara lain : (1) Kemampuan melihat organisasi secara keseluruhan; (2) Kemampuan mengambil keputusan-keputusan; (3) Kemampuan mendelegasikan wewenang; dan (4) Kemampuan menanamkan kesetiaan.

Kepemimpinan pada dasarnya adalah salah satu faktor yang harus ada dalam organisasi, sebab suatu organisasi terdiri dari sekelompok orang yang bekerja di bawah pengarahan kepemimpinan bagi pencapaian tujuan yang pasti. Sehingga dapat dikatakan bahwa kepemimpinan mempengaruhi perilaku orang lain dalam situasi tertentu agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

C. Teori Kepemimpinan

Kegiatan manusia secara bersama-sama selalu membuktikan kepemimpinan. Jadi harus ada pemimpin demi sukses dan efisiensi kerja. Untuk bermacam-macam usaha dan kegiatan manusia yang jutaan banyaknya ini diperlukan upaya yang terencana dan sistematis untuk melatih dan mempersiapkan pemimpin-pemimpin baru. Oleh karena itu banyak studi dan penelitian dilakukan orang untuk mempelajari masalah pemimpin dan kepemimpinan. Dan para sarjana telah memberikan berbagai defenisi mengenai pemimpin dan kepemimpinan, dengan menonjolkan satu atau beberapa aspek tertentu sesuai dengan ide pencetus definisi tersebut, beserta interpretasinya.

Banyak sekali studi ilmiah yang telah dilakukan oleh teoritikus mengenai kepemimpinan, dan hasilnya berupa teori-teori tentang kepemimpinan yang mempunyai penekanan pada sisi lain yang berbeda. Dan para penganutnya berkeyakinan bahwa teori itulah yang paling benar dan paling tepat.

Menurut Terry dikemukakan bahwa teori-teori kepemimpinan terdiri dari : (1) teori otokratis (2) teori psikologis (3) teori sosiologi (4) teori suportif (5) teori laissez faire (6) teori kelakuan pribadi (7) teori situasi dan (8) teori humanistik/ populistik.

Dari pendapat tersebut di atas maka dapat dijelaskan teori-teori kepemimpinan yang dimaksud dengan uraian sebagai berikut :

(1) Teori Otokratis

Kepemimpinan menurut teori ini berdasarkan atas perintah-perintah, paksaan dan tindakan-tindakan yang arbitrer (sebagai wasit). Ia melakukan pengawasan yang ketat, agar semua pekerjaan berlangsung secara efisien. Kepemimpinannya berorientasikan pada struktur organisasi dan tugas-tugas.

Pemimpin tersebut pada dasarnya selalu mau berperan sebagai pemain tunggal dan berambisi untuk merajai situasi. Pemimpin yang masuk ke dalam teori ini selalu memberikan perintah-perintah yang dipaksakan dan harus dipatuhi, menentukan kebijakan untuk semua pihak tanpa berkonsultasi dengan para anggota, dan tidak memberikan informasi secara detail mengenai rencana yang akan datang.

(2) Teori Psikologis

Teori ini menyatakan, bahwa fungsi seorang pemimpin adalah memunculkan dan mengembangkan sistem motivasi tterbaik, untuk merangsang kesediaan bekerja dari para pengikut dan anak buah. Pemimpin merangsang bawahan, agar mereka mau bekerja, guna mencapai sasaran-sasaran organisatoris maupun untuk memenuhi tujuan-tujuan pribadi.

Teori ini lebih mengedepankan aspek-aspek psikologis manusia, seperti : pengakuan, martabat, status sosial, kepastian emosional, memperhatikan keinginan dan kebutuhan pegawai, kegairahan kerja, minat, suasana hati dan lain-lain.

(3) Teori Sosiologis

Kepemimpinan dianggap sebagai usaha-usaha untuk melancarkan antar-relasi dalam organisasi, dan sebagai usaha untuk menyelesaikan setiap konflik organisatoris antara para pengikutnya, agar tercapai kerjasama yang baik. Pemimpin menetapkan tujuan-tujuan dengan menyertakan para pengikut dalam pengambilan keputusan terakhir.

Setiap anggota mengetahui hasil apa, keyakinan apa, dan kelakuan apa yang diharapkan kepada mereka oleh pemimpin dan kelompoknya. Pemimpin diharapkan dapat mengambil tindakan-tindakan korektif apabila terdapat kepincangan-kepincangan dan penyimpangan-penyimpangan dalam organisasi.

(4) Teori Suportif

Menurut teori ini, para pengikut harus berusaha sekuat mungkin, dan bekerja dengan penuh gairah. Sedangkan pemimpin akan membimbing dengan sebaik-baiknya melalui kebijakan tertentu. Untuk maksud ini, pemimpin perlu menciptakan suatu lingkungan kerja yang menyenangkan, dan bisa membantu mempertebal keinginan setiap pengikutnya untuk melaksanakan pekerjaan sebaik mungkin, sanggup bekerjasama dengan pihak lain, mau mengembangkan bakat dan keterampilannya dan menyadari benar keinginan sendiri untuk maju.

Ada pihak yang menanamkan teori suportif ini sebagai teori partisipatif, dan ada pula yang menanamkannya sebagai teori kepemimpinan demokratis.

(5) Teori Laissez Faire

Kepemimpinan laissez faire ditampilkan oleh seorang tokoh yang sebenarnya tidak becus mengurus, dan dia menyerahkan semua tanggung jawab serta pekerjaan kepada bawahan atau kepada semua anggotanya. Dan dia sebagai ketua yang bertindak sebagai simbol, dengan macam-macam hiasan atau ornamen yang mentereng. Biasanya dia tidak memiliki keterampilan teknis, sedangkan kedudukan sebagai pemimpin dimungkinkan oleh sistem nepotisme, atau lewat praktek penyuapan.

Pendeknya, pemimpin laissez faire itu pada intinya bukanlah seorang pemimpin dalam pengertian yang sebenarnya. Semua anggota yang dipimpinnya bersikap santai-santai dan bermotto “lebih baik tidak usah bekerja”. Mereka menunjukkan sikap acuh tak acuh. Sehingga kelompok tersebut praktis menjadi tidak terbimbing dan tidak terkontrol.

(6) Teori Kepemimpinan Pribadi

Kepemimpinan jenis ini akan muncul berdasarkan kualitas-kualitas pribadi atau pola-pola kelakuan para pemimpinnya. Teori ini menyatakan, bahwa seorang pemimpin itu selalu berkelakuan kurang lebih sama, yaitu ia tidak pernah melakukan tindakan-tindakan yang identik sama dalam setiap situasi yang dihadapi. Dengan kata lain, dia harus mampu bersikap fleksibel, luwes, bijaksana, dan mempunyai daya lenting yang tinggi, karena dia harus mampu mengambil langkah-langkah yang paling tepat untuk suatu masalah. Sedang masalah sosial itu tidak akan pernah identik dalam waktu yang berbeda.

(7) Teori Situasi

Teori ini menjelaskan, bahwa harus terdapat daya lenting yang tinggi/ fleksibilitas pada pemimpin untuk menyesuaikan diri terhadap tuntutan situasi, lingkungan sekitar dan zamannya. Teori situasi ini lebih menitikberatkan pada dinamika interaksi antara pemimpin dengan bawahan melalui interaksi, untuk menjaring dan memenuhi harapan dan keinginan bawahan secara mendasar. Sebab bawahan itu adalah subyek yang memiliki keinginan, perasaan dan harapan yang harus diperhatikan oleh pemimpin.

(8) Teori Humanistik/ Populistik

Fungsi kepemimpinan menurut teori ini adalah merealisir kebebasan manusia dan memenuhi segenap kebutuhan insani, yang dicapai melalui interaksi pemimpin dengan bawahan. Untuk melakukan hal ini perlu adanya organisasi yang baik dan pemimpin yang baik, yang mau memperhatikan kepentingan dan kebutuhan bawahan.

Fokus dari teori ini adalah bawahan dengan segenap harapan dan kebutuhan harus diperhatikan, dan pemerintah mau mendengar suara hati nurani rakyat, agar tercapai organisasi yang makmur, adil dan sejahtera bagi setiap warga negara dan individu.

D. Gaya Kepemimpinan

Gaya kepemimpinan banyak mempengaruhi keberhasilan sorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku bawahannya. Istilah gaya secara kasar adalah sama dengan cara yang digunakan pemimpin di dalam mempengaruhi para pengikutnya. Kepemimpinan suatu organisasi perlu mengembangkan staf dan membangun iklim motivasi yang menghasilkan tingkat produktivitas yang tinggi, maka pemimpin perlu memikirkan tingkat gaya kepemimpinannya. Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang dihunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang ia lihat. Usaha menyelaraskan persepsi di antara orang akan mempengaruhi menjadi amat penting kedudukannya.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mengetahui kesuksesan pemimpin ialah dengan mempelajari gayanya, karena gaya kepemimpinan banyak mempengaruhi keberhasilan seorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku bawahannya.

Istilah gaya secara kasar adalah sama dengan cara yang dipergunakan pemimpin dalam mempengaruhi para pengikutnya. Thoha (1997:52) mengatakan bahwa gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain. Dalam hal ini usaha menyelaraskan persepsi di antara orang yang akan mempengaruhi dengan orang yang perilakunya dipengaruhi menjadi sangat penting kedudukannya.

Gaya kepemimpinan ialah cara pemimpin membawa diri sebagai pemimpin, cara berlagak dalam menggunakan kekuasaannya, misalnya (1) gaya kepemimpinan otoriter, (2) gaya kepemimpinan demokratis, (3) gaya kepemimpinan paternalistik. Selanjutnya Keating (1986:9) mengatakan bahwa gaya kepemimpinan hanya ada dua macam, yaitu: (1) gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas (task oriented) dan (2) gaya kepemimpinan yang berorientasi pada manusia (Human relationship oriented).

Dalam berbagai literatur ditemukan istilah gaya kepemimpinan dari tipe kepemimpinan secara bersamaan. Antara gaya kepemimpinan dan tipe kepemimpinan diartukan sebagai suatu yang identik, seperti yang dikemukakan oleh Siagian (1994:30) bahwa gaya kepemimpinan seseorang akan identik dengan tipe kepemimpinan orang yang bersangkutan yang meliputi: (1) gaya/tipe otokratik, (2) gaya/tipe paternalistik, (3) gaya/tipe kharismatik, (4) gaya/tipe laissez-faire, dan (5) gaya/tipe demokratis.

Lewin, Lippit, dan White (dalam Salusu: 1996: 194) mengemukakan bahwa pada dasarnya ada tiga gaya kepemimpinan, yaitu: otokratik, demokratik dan laissez-faire, kemudian gatto (dalam Salusu: 1996: 194) melengkapi menjadi empat, yaitu: direkatif, konsultatif, partisipatif, dan delegatif.

Menurut Siagian (1994:32) bahwa persoalan yang mendasar apabila membahas masalah kepemimpinan. Di satu sisi para ahli berpendapat bahwa gaya kepemimpinan seseorang bersifat fixed sehingga tidak berubah meskipun.

Gaya kepemimpinan banyak mempengaruhi keberhasilan seorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku bawahannya. Istilah gaya secara kasar adalah sama dengan cara yang dipergunakan pemimpin di dalam mempengaruhi para pengikutnya. Kepemimpinan suatu organisasi perlu mengembangkan staf dan membangun iklim motivasi yang menghasilkan tingkat produktivitas yang tinggi, maka pemimpin perlu memikirkan gaya kepemimpinannya. Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mengetahui kesuksesan pemimpin ialah dengan mempelajari gayanya, karena gaya kepemimpinan banyak mempengaruhi keberhasilan seseorang pemimpin dalam mempengaruhi bawahannya.

Menurut teori situassional Siagian (1994:18) seorang pemimpin yang menjadi demokratik sekalipun akan mengubah gaya kepemimpinan, misalnya menjadi demokratik apabila situasi menuntutnya demikian. Begitu pula yang paling otokratik, mungkin saja bertindak otoriter pada situasi yang lain.

Menurut Harsei dan Blancard (dalam Thoha, 1996:278) bahwa konsepsi kepemimpinan situasional adalah dengan memperhatikan variabel-variabel yang penting, misalnya: organisasi, tugas-tugas, pekerjaan, pengawasan, dan waktu kerja akan tetapi penekanan dalam kepemimpinan situasional hanyalah pada perilaku pemimpin dan bawahan saja.

Dari konsep dasar kepemimpinan situasi adalah kedewasaan/kematangan bawahan. Begitu tingkat kedewasaan berusaha menyelesaikan suatu tugas meningkat, maka manajer harus mengurangi orientasi pada tugasn, dan mulai meningkatkan orientasi pada hubungan (hubungan atasan-bawahan), sampai bawahan mencapai tingkat sedang. Begitu bawahan mulai bergerak tingkat kedewasaannya dari sedang ke dewasa, adalah tepat saatnya bagi manajer yang mengurangi baik orientasi kepada bawahan maupun orientasi kepada tugas.

Dengan demikian, bawahan tidak saja dewasa menyelesaikan tugas, tetapi juga dewasa secara psikologis. Kepemimpinan situasi yang menggunakan konsep dsar kedewasaan/kematangan bawahan ini baru berarti apabila peran pemimpin/manajer dalam memotivasi bawahan tepat diberikan kepada bawahan sesuai dengan tingkat kedewasaannya. Dengan demikian, organisasi dapat menjadi efektif.

Sehubungan dengan konsep dasar kepemimpinan situasi yang menggunakan kedewasaan bawahan maka gaya kepemimpinan atasan sangat terkait dengannya.

Pentingnya gaya kepemimpinan diterapkan kepada bawahan sesuai dengan kedewasaan/kematangan bawahan merupakan persyaratan mutlak keefektifan kepemimpinan dalam keberhasilan organisasi.

Gaya kepemimpinan banyak mempengaruhi keberhasilan seorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku bawahannya. Istilah gaya secara kasar adalah sama dengan cara yang dipergunakan pemimpin di dalam mempengaruhi para pengikutnya. Kepemimpinan suatu organisasi perlu mengembangkan staf dan membangun iklim motivasi yang menghasilkan tingkat produktivitas yang tinggi, maka pemimpin perlu memikirkan gaya kepemimpinannya. Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain.

Dengan demikian, kepemimpinan seorang pemimpin harus dapat menjalin hubungan pribadi yang baik antara yang dipimpin dengan yang memimpin, sehingga timbul rasa saling hormat-menghormati, percaya-mempercayai, saling tolong-menolong, dan rasa senasip sepenanggungan. Jadi, seorang pemimpin harus mampu berpikir secara sistematis dan teratur, mempunyai pengalaman dan pengetahuan serta mampu menyusun rencana tentang apa yang akan dilakukan.

Perilaku kepemimpinan atau leadership behavior tentu tidak dapat dilepaskan dari pembahasan tentang leadership style atau gaya kepemimpinan. Berbicara tentang kepemimpinan, orang cenderung berasosiasi tentang ungkapan klasik mengenai gaya kepemimpinan. Menurut Kusmintarjo dan Burhanuddin (1997-10) bahwa “Kepemimpinan itu situasional, artinya suatu gaya kepemimpinan dapat efektif untuk situasi tertentu dan kurang efektif untuk situasi yang lain. Ternyata gaya-gaya itu bervariasi adanya. Tergantung pada situasi kematangan bawahan (terpimpin) yang akan dibinanya.

Pada dasarnya, ada tiga gaya kepemimpinan seperti yang dikembangkan oleh Lewin, Lippit, dan White yaitu: Otokratik, Demokratik, dan Laissez-faire, kemudian dilengkapi menjadi empat, yaitu gaya direktif, gaya konsultatif, gaya partisipatif, dan gaya delegasi (Gatto, dalam Salusu, 1996).

Menurut Rustandi (1987:27-28) dijelaskan bahwa gaya kepemimpinan ada empat macam, yaitu:

1. Gaya Kepemimpinan Otokratis

Gaya ini kadang-kadang dikatakan kepemimpinan terpusat pada diri pemimpin atau gaya direktif. Gaya ini ditandai dengan sangat banyaknya petunjuk yang datangnya dari pemimpin dan sangat terbatasnya bahkan sama sekali tidak adanya peran serta anak buah dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.

Pemimpin secara sepihak menentukan peran serta apa, bagaimana, kapan, dan bilamana berbagai tugas harus dikerjakan. Yang menonjol dalam gaya ini adalah pemberian perintah.

Pemimpin otokratis adalah seseorang yang memerintah dan menghendaki kepatuhan. Ia memerintah berdasarkan kemampuannya untuk memberikan hadiah serta menjatuhkan hukuman.

Gaya kepemimpinan otokratis adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dengan cara segala kegiatan yang akan dilakukan semata-mata diputuskan oleh pimpinan.

Adapun ciri-ciri gaya kepemimpinan otokratis adalah sebagai berikut:

1.1 Wewenang mutlak terpusat pada pemimpin;

1.2 Keputusan selalu dibuat oleh pemimpin;

1.3 Kebijakan selalu dibuat oleh pemimpin;

1.4 Komunikasi berlangsung satu arah dari pimpinan kepada bawahan;

1.5 Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau kegiatan para bawahannya dilakukan secara ketat;

1.6 Tidak ada kesempatan bagi bawahan untuk memberikan saran pertimbangan atau pendapat;

1.7 Tugas-tugas bawahan diberikan secara instruktif;

1.8 Lebih banyak kritik dari pada pujian, menuntut prestasi dan kesetiaan sempurna dari bawahan tanpa syarat, dan cenderung adanya paksaan, ancaman, dan hukuman.

1. Gaya Kepemimpinan Birokratis

Gaya ini dapat dilukiskan dengan kalimat “memimpin berdasarkan peraturan”. Perilaku pemimpin ditandai dengan keketatan pelaksanaan prosedur yang berlaku bagi pemipin dan anak buahnya.

Pemimpin yang birokratis pada umumnya membuat keputusan-keputusan berdasarkan aturan yang ada secara kaku tanpa adanya fleksibilitas. Semua kegiatan hampir terpusat pada pimpinan dan sedikit saja kebebasan orang lain untuk berkreasi dan bertindak, itupun tidak boleh lepas dari ketentuan yang ada.

Adapun karakteristik dari gaya kepemimpinan birokratis adalah sebagai berikut:

2.1 Pimpinan menentukan semua keputusan yang bertalian dengan seluruh pekerjaan dan memerintahkan semua bawahan untuk melaksanakannya;

2.2 Pemimpin menentukan semua standar bagaimana bawahan melakukan tugas;

2.3 Adanya sanksi yang jelas jika seorang bawahan tidak menjalankan tugas sesuai dengan standar kinerja yang telah ditentukan.

1. Gaya Kepemimpinan Demokratis

Gaya kepemimpinan demokratis adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan cara berbagai kegiatan yang akan dilakukan ditentukan bersama antara pimpinan dan bawahan.

Gaya ini kadang-kadang disebut juga gaya kepemimpinan yang terpusat pada anak buah, kepemimpinan dengan kesederajatan, kepemimpinan konsultatif atau partisipatif. Pemimpin kerkonsultasi dengan anak buah untuk merumuskan tindakan keputusan bersama.

Adapun ciri-cirinya sebagai berikut:

3.1 Wewenang pemimpin tidak mutlak;

3.2 Pimpinan bersedia melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan;

3.3 Keputusan dan kebijakan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan;

3.4 Komunikasi berlangsung secara timbal balik, baik yang terjadi antara pimpinan dan bawahan maupun sesama bawahan;

3.5 Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau kegiatan para bawahan dilakukan secara wajar;

3.6 Prakarsa dapat datang dari pimpinan maupun bawahan;

3.7 Banyak kesempatan bagi bawahan untuk menyampaikan saran, pertimbangan atau pendapat;

3.8 Tugas-tugas kepada bawahan diberikan dengan lebih bersifat permintaan dari pada intruksi;

3.9 Pimpinan memperhatikan dalam bersikap dan bertindak, adanya saling percaya, saling menghormati.

1. Gaya Kepemimpinan Laissez Faire

Gaya ini mendorong kemampuan anggota untuk mengambil inisiatif. Kurang interaksi dan kontrol yang dilakukan oleh pemimpin, sehingga gaya ini hanya bisa berjalan apabila bawahan memperlihatkan tingkat kompetensi dan keyakinan akan mengejar tujuan dan sasaran cukup tinggi.

Dalam gaya kepemimpinan ini, pemimpin sedikit sekali menggunakan kekuasaannya atau sama sekali membiarkan anak buahnya untuk berbuat sesuka hatinya. Adapun ciri-ciri gaya kepemimpinan Laissez Faire adalah sebagai berikut:

4.1 Bawahan diberikan kelonggaran atau fleksibel dalam melaksanakan tugas-tugas, tetapi dengan hati-hati diberi batasan serta berbagai produser;

4.2 Bawahan yang telah berhasil menyelesaikan tugas-tugasnya diberikan hadiah atau penghargaan, di samping adanya sanksi-sanksi bagi mereka yang kurang berhasil, sebagai dorongan;

4.3 Hubungan antara atasan dan bawahan dalam suasana yang baik secara umum manajer bertindak cukup baik;

4.4 Manajer menyampaikan berbagai peraturan yang berkaitan dengan tugas-tugas atau perintah, dan sebaliknya para bawahan diberikan kebebasan untuk memberikan pendapatannya;

Sedangkan menurut Max Weber (dalam Ridwan Nasir, 2005:17) meninjau masalah kepemimpinan dari segi legalitas otorita. Max Weber membedakan legalitas otorita menjadi 3, yaitu otorita rasional, otorita tradisional dan otorita kharismatik. Otorita rasional mempunyai hubungan lebih formal dan birokratik, yang lebih mendasarkan pada kompetensi teknik. Otorita tradisional mempertahankan legalitas otorita, dan menuntut orang lain mengakui otoritanya berdasarkan tradisi. Sedangkan legalitas otorita kharismatik diperoleh seseorang karena kharisma pribadinya, bukan berdasar kemudahan sosial atau kompetensi teknik. Kharisma pribadi tersebut dijabarkan dalam sifat-sifat seperti suci, keturunan unggul, kepribadian atau tanda-tanda yang diperkirakan menjadi indikator sifat-sifat tersebut.

Sehubungan dengan hal ini, Sutanto (dalam Kepemimpinan Kyai, 1999:13) mengaitkan legalitas otorita Max Weber menjadi gaya atau tipe kepemimpinan yang diterapkan pondok pesantren. Adapun gaya atau tipe kepemimpinan yang banyak dijumpai di pondok pesantren yaitu :

1. Gaya atau tipe kepemimpinan rasional yaitu tipe kepemimpinan yang mengacu pada suatu pola kepemimpinan yang bersifat kolektif di mana tingkat partisipasi komunitas lebih tinggi, struktur keorganisasian lebih komplek dan sentra kepemimpinan tidak mengarah kepada satu individu melainkan mekanisme kepemimpinan diatur secara manajerial.
2. Gaya atau tipe kepemimpinan tradisional yakni suatu tipe kepemimpinan yang membutuhkan legitimasi formal komunitas pendukungnya dengan cara mencari kaitan keturunan dari tipe kepemimpinan kharismatik.
3. Sedangkan gaya atau tipe kepemimpinan kharismatik yaitu suatu tipe kepemimpinan yang mengacu pada satu figur sentral yang dianggap oleh komunitas pendukungnya memiliki kekuatan supranatural dari Allah, kelebihan dalam berbagai bidang keilmuan, partisipasi komunitas dalam mekanisme kepemimpinan kecil, dan mekanisme kepemimpinan tidak diatur secara birokratik.

Dengan adanya model kepemimpinan yang bertalian langsung terhadap produktivitas, maka Likert (dalam Wihjosumidjo, 1994:73), mengemukakan pendapatnya bahwa suatu organisasi yang tidak produktif disebabkan adanya kecendrungan pemimpin ke arah gaya kepemimpinan otoriter, sebaliknya produktivitas tinggi yang dapat dicapai oleh organisasi, banyak ditentukan oleh adanya gaya kepemimpinan yang konsultatif atau gaya kepemimpinan partisipatif.

Demikian pula apa yang dikemukakan oleh Wendel French (dalam Winardi, 1995:81), mengemukakan bahwa ada beberapa faktor yang berkaitan dengan persoalan kepemimpinan yang perlu diperhatikan secara simultan. Di mana misalnya dapat berusaha untuk memperbaiki iklim organisasi yang membantu kepemimpinan secara efektif.

Selanjutnya Anonim (1999:9) mengemukakan bahwa : kepemimpinan yang berhasil adalah suatu proses kepemimpinan yang dapat memenuhi kebutuhan dari masing-masing situasi dan dapat memilih/menerapkan teknik atau gaya kepemimpinan yang sesuai dengan tuntutan situasi tersebut.

Seorang pemimpin dapat melaksanakan macam-macam gaya kepemimpinan, yang sebagian besar tergantung dari pada watak orang yang bersangkutan. Tetapi, seorang pemimpin yang bijaksana senantiasa akan berusaha untuk menerapkan gaya kepemimpinan yang paling sesuai dengan situasi serta kondisi yang dihadapinya. Setiap pemimpin menjalankan kepemimpinan atau leadership.

Kepemimpinan pada hakekatnya merupakan produk situasional. Dalam hubungan ini, keberhasilan kepemimpinan di sekolah sebenarnya akan lebih banyak ditentukan oleh faktor-faktor situasi seperti: karakteristik individu yang dipimpin, pekerjaan lingkungan sekolah, kebudayaan setempat, kepribadian kelompok, dan bahkan waktu yang dimiliki oleh kepala sekolah.